Traffic Counter

24 03 2010

free counters





Pergeseran Kata lucu dalam Bahasa Indonesia Nonformal

12 12 2010

(1)    “Lucu-lucu banget sih …”

(2)    “Bonekanya lucu ya?”

(3)    “Lucu ih, beli di mana?”

 

Pernahkah Anda mendengar tuturan-tuturan semacam di atas? Kalimat-kalimat tuturan itu saya ambil dari beberapa obrolan para remaja yang tertangkap telinga saya ketika berjalan-jalan di mal, belanja di toko buku, berinternet di warnet, bahkan di jalan-jalan. Pokoknya, sering saya temukan kalimat semacam itu digunakan oleh para remaja yang sering pula dikategorikan sebagai ABG alias Anak Belakang Gunung .. eh salah, Anak Baru Gede. Ada yang menarik dari tuturan tersebut. Penggunaan kata lucu rupanya memiliki makna lain dalam bahasa ragam nonformal belakangan ini. Seperti yang dapat diamati pada tiga contoh kalimat tersebut, kata lucu tentunya bermakna lain dari pada makna aslinya yang terdapat di KBBI, yaitu ‘menggelikan hati; menimbulkan tertawa; jenaka’.

Kalimat (1) saya tangkap pada suatu hari di lapak makan (food court) mal terkenal di (Kota Pendidikan) Jatinangor. Beberapa orang mahasiswi (?) sedang membuka-buka katalog tas yang ditawarkan oleh teman mereka (yang juga ada dalam kelompok tersebut). Kalimat tersebut adalah komentar atas desain-desain tas yang tersaji di katalog tersebut. Betulkah penggunaan kata lucu dalam kalimat itu?

Apakah tas bisa melucu? Apakah tas di dalam katalog itu melakukan tindakan yang membuat tertawa? Melawak, misalnya? Apabila ya, bolehlah digunakan kata lucusebagai predikat dalam kalimat tersebut.

Kalimat (2) saya temukan juga di mal. Akan tetapi, kali ini di sebuah mal terkenal di Kota Bandung. Seorang siswi SMP dan teman-temannya, kali ini, sedang melihat-lihat berbagai barang di toko khusus pernak-pernik remaja perempuan. Ia bersama teman-temannya sedang membicarakan boneka beruang berukuran kecil.

Dalam kalimat tersebut, si penutur jelas menunjukkan bahwa boneka yang ditunjuknya itu lucu. Akan tetapi, jika diingat lagi makna lucu, makna kalimat ini akan aneh. Adakah boneka bisa melawak? Ataukah boneka tersebut dengan melakukan suatu adegan lucu yang membuat tertawa? Saya pikir boneka di zaman posmodern ini belum secanggih itu sehingga bisa bertingkah sendiri di depan orang yang melihatnya —  apalagi melawak. Jadi, tepatkah kata lucu dalam kalimat itu?

Kalimat (3) saya temukan di sebuah sekolah menengah atas di Kota Bandung — tempat saya mengajar ekskul English Club. Situasi kalimat itu adalah di koridor kelas. Tiga orang siswi sedang memperbincangkan sebuah bros/pin yang dimiliki temannya. Kalimat tersebut adalah komentar terhadap si bros.

Pertanyaannya: Apakah bros itu memiliki suatu kelucuan? Membuat tertawakah? Atau terlihat membuat tertawakah? Kalau sebuah pin bergambar ikan kecil berwarna biru muda dengan tiga gelembung kecil di sampingnya menurut anda bisa membuat tertawa, silakan anggap kalimat itu benar (secara logika makna).

Ada apa dengan kata lucu ini? Mengapa dia digunakan sebagai predikat bagi hal-hal yang tidak atau belum tentu membuat tertawa, padahal makna aslinya adalahmenimbulkan tertawa atau jenaka.

Menurut hemat saya, kalimat-kalimat di atas menunjukkan suatu perasaan gemassi penutur terhadap objek yang dimaksud. Misalnya, kalimat (1) melambangkan kegemasan terhadap desain-desain tas, kalimat (2) melambangkan kegemasan terhadap boneka yang dipajang, dan kalimat (3) melambangkan kegemasan terhadap pin/bros yang diperbincangkan.

Sebagai perbandingan lema, di dalam bahasa Inggris, mungkin makna semacam itu dilambangkan oleh kata cute. Di dalam bahasa Jepang, ada pula kata かわいい kawaii. Nah, di dalam bahasa Indonesia, perasaan kegemasan itu diungkapkan dengan kata apa? Kata imut-imut.

Di KBBI dijelaskan bahwa makna imut-imut adalah ‘manis, mungil, dan menggemaskan’. Makna ini mirip dengan makna kata cute dalam kamus terjemahan Inggris – Indonesia. Penerjemahan di Google Translate — mesin penerjemah yang paling diandalkan mahasiswa yang sering menyalin-tempel artikel Wikipedia ini — pun demikian.

Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik simpulan bahwa kata lucu menyerobot makna kata imut-imut. Masalah penyerobotan ini, saya tidak menyalahkan penutur karena segala macam perubahan bahasa itu seringkali terjadi begitu saja tanpa ada yang menyadari awalnya. Nah, dalam kasus ini, kata imut-imutrupanya tersaingin penggunaannya dengan kata lucu. Apa penyebabnya? Saya sendiri belum mendapat jawaban lengkap mengenai hal itu.

Salah satu teori (sok tahu) saya adalah karena kata imut-imut yang deretan fonnya terlalu panjang dibanding lucu. Akan tetapi, jelas bahwa penyerobotan makna ini kurang tepat karena mengakibatkan dua kata bermakna persis sama. Dengan kata lain, pemborosan lema.

Sebenarnya, tulisan ini bukan bermaksud ingin melarang-larang pergeseran makna suatu bahasa, bukan pula saya (selalu) ingin mengkritik penggunaan bahasa nonformal, apalagi melarang penggunaan bahasa nonformal. Bahasa nonformal itu wajar karena merupakan suatu kreasi bahasa oleh penutur pula. Bahasa standar yang dianggap monoton, tidak berwarna/berkesan — karena memang mempertahankan kenetralan –, dan kurang fleksibel dimodifikasi sedemikian rupa dengan pelanggaran beberapa kaidah bahasa yang kurang vital sehingga lebih berwarna, bernuansa, dan fleksibel — yang oleh peristilahan para remaja, dinobatkan sebagai bahasa gaul.

Silakan pergunakan istilah-istilah aneh dan macam-macam dalam berbahasa. Bagi saya itu bagus dan akan menambah menarik bahasa Indonesia. Akan tetapi, alangkah gunakan istilah yang sudah ada dengan baik dan sesuai logika maknanya. Misalnya perihal kata lucu ini. Bahasa kita sudah punya kata imutuntuk menunjukkan rasa gemas kita terhadap suatu benda. Untuk apa menggeser lagi kata lucu hanya untuk melambangkan makna yang sama dengan imut? Boros ‘kan?

Akan tetapi, pergeseran yang sudah kepalang luas dipraktikkan ini tentunya akan sulit untuk diubah. Dengan demikian, silakan gunakan dengan catatan: ubah makna lema lucu di dalam kamus apabila kata lucu benar sudah disepakati (atau dikonvensi) pergeseran maknanya oleh setiap penutur.

 

Salam





Tongue Twister, si Pembelit Lidah

15 11 2010

Hari ini akhirnya jadi juga saya melatih ekskul english club lagi. Oh, sebuah kenyataan yang aneh memang, seorang mahasiswa sastra Indonesia yang pengalamannya mengajar di bimbel untuk mata pelajaran bahasa Indonesia dan menjadi “pembantu” dosen mata kuliah bahasa Indonesia bisa melatih bahasa Inggris di SMA. Akan tetapi, tak apalah, yang penting suka dan sanggup.

Hari ini, entah kenapa hanya ada tiga orang yang datang clubbing — istilah kami untuk kegiatan klub. Meskipun begitu, clubbing tetap terlaksana. Kegiatannya? Tongue twisters!

Apa itu tongue twister? Secara harfiah, ke bahasa Indonesia akan diartikan sebagai pembelit lidah. Tidak aneh, sebab ketika merapalkan kalimat-kalimat atau tuturan tongue twister seringkali lidah akan terbelit-belit — istilah “gaul”-nya, belibet. Tongue twister dalam Wikipedia1, didefinisikan sebagai A phrase that designed to be difficult to articulate properly ‘sebuah tuturan yang diatur/ditata/dirancang sedemikian rupa sehingga sulit untuk diartikulasikan sebagaimana mestinya’. Saya memilih tongue twister sebagai alat latihan karena sangat cocok dan bagus untuk melatih kemampuan pronounciation atau pengucapan/artikulasi tuturan. Latihan artikulasi tuturan ini adalah dasar yang sangat penting bagi keterampilan speaking ‘berbicara’.

Apa yang menarik dari tongue twister? Banyak. Antara lainnya, dapat ditemukan bahwa ternyata banyak sekali kata di dalam suatu bahasa yang mirip dan disusun menjadi suatu kalimat atau tuturan sehingga menyulitkan pembicara. Selain untuk bahan iseng-iseng, tongue twister adalah sebuah alat yang bagus untuk berlatih pronounciation — seperti yang tadi saya ceritakan.

Nah, berikut ini adalah contoh-contoh tongue twister yang saya berikan kepada anggota klub. Kelompok pertama ini adalah tongue twister tipe kalimat.

1

The thirty-three thieves thought that they thrilled the throne throughout Thursday.

2

Can you can a can as a canner can can a can?

3

Six sick hicks nick six slick bricks with picks and sticks.

4

Six sleek swans swam swiftly southwards

5

A big black bug bit a big black dog on his big black nose!

Kemudian, berikut ini adalah contoh tongue twister model repetitive. Model ini biasanya terdiri dari beberapa kata yang menjadi frasa atau sebuah kalimat/klausa pendek. Aturan mainnya: ucapkan tongue twister tersebut berulang-ulang. Setiap ulangan dihitung sebagai satu skor. Skor dihitung sampai si pengucap “terpeleset” artikulasinya atau salah melakukan kesalahan pengucapan. Orang yang mendapat giliran selanjutnya harus bisa melampaui skor orang yang baru saja mendapat giliran. Apabila tidak sanggup, orang tersebut harus mendapat suatu hukuman.

Nah, berikut ini contohnya.

1 Sheena leads, Sheila needs
2 World Wide Web
3 Eleven benevolent elephants
4 Babbling bumbling band of baboons
5 Thirty-six thick silk threads
6 Crash Quiche Course

Kemudian, di bawah ini adalah beberapa contoh tongue twister lainnya. Bentuknya yang panjang bisa berupa suatu narasi kronologis.

1

Peter Piper picked a peck of pickled peppers.A peck of pickled peppers Peter Piper picked.

If Peter Piper picked a peck of pickled peppers,

Where’s the peck of pickled peppers Peter Piper picked?

2

How much wood could Chuck Woods’ woodchuck chuck, if Chuck Woods’ woodchuck could and would chuck wood? If Chuck Woods’ woodchuck could and would chuck wood, how much wood could and would Chuck Woods’ woodchuck chuck? Chuck Woods’ woodchuck would chuck, he would, as much as he could, and chuck as much wood as any woodchuck would, if a woodchuck could and would chuck wood.

3

Through three cheese trees three free fleas flew.While these fleas flew, freezy breeze blew.

Freezy breeze made these three trees freeze.

Freezy trees made these trees’ cheese freeze.

That’s what made these three free fleas sneeze.

4

She sells sea shells by the sea shore.The shells she sells sure are sea shore shells,

For if she sells sea shore shells as sea shells,

The shells she sells are sea shore shells.

Perhatikan pula syair-syair berikut ini. Syair-syair ini menggunakan berbagai kata yang diksinya sengaja memuat banyak kata yang berhomonim atau berhomofon agar tampak menarik dan menantang pembaca yang senang tongue twister.

Luke Luck likes lakes.

Luke’s duck likes lakes.

Luke Luck licks lakes.

Luck’s duck licks lakes.

Duck takes licks in lakes Luke Luck likes.

Luke Luck takes licks in lakes duck likes.

Oleh Dr. Seuss, Fox in Socks

Yang terakhir ini adalah sebuah teks yang saya lupa asalnya. Teks ini bercerita tentang copyright. Mudah-mudahan Anda tidak pusing ketika membacanya!

When you write copy you have the right to copyright the copy you write. You can write good and copyright but copyright doesn’t mean copy good – it might not be right good copy, right?

Now, writers of religious services write rite, and thus have the right to copyright the rite they write. Conservatives write right copy, and have the right to copyright the right copy they write. A right wing cleric might write right rite, and have the right to copyright the right rite he has the right to write. His editor has the job of making the right rite copy right before the copyright would be right. Then it might be copy good copyright.

Should Thom Wright decide to write, then Wright might write right rite, which Wright has a right to copyright. Copying that rite would copy Wright’s right rite, and thus violate copyright, so Wright would have the legal right to right the wrong. Right?

Legals write writs which is a right or not write writs right but all writs, copied or not, are writs that are copyright. Judges make writers write writs right. Advertisers write copy which is copyright the copy writer’s company, not the right of the writer to copyright. But the copy written is copyrighted as written, right?

Wrongfully copying a right writ, a right rite or copy is not right.

Pembelit Lidah di Bahasa Indonesia

Siapa bilang bahasa Indonesia tidak punya tongue twister? Ada dan banyak! Biasanya, tuturan dengan susunan kata yang luar biasa menjengkelkan bagi orang-orang yang mudah “terpeleset” dalam bertutur ini dijadikan semacam tantangan iseng-iseng untuk menguji apakah seseorang belibet atau tidak dalam berucap. Mungkin Anda masih ingat dengan tuturan-tuturan ini.

(1) Ular lari lurus.
(2) Satu sate tujuh tusuk.
(3) Satu biru, dua biru, tiga biru, empat biru ...  dan seterusnya, sampai tidak-terhingga biru -- Biasanya sampai di angka lima atau sepuluh biru, si pengucap terpeleset mengucapkan lima ribu atau sepuluh ribu.
(4) Kelapa diparut, kepala diurut
(5) Kata kakak kakekku, kuku kaki kakak kakekku kaku-kaku.

Masih ada lagi? Mungkin Anda tahu yang lain? Mari bermain!

Referensi:

1. “Tongue Twister” dalam Wikipedia. http://en.wikipedia.org/wiki/Tongue-twister. Diakses pada 15 November 2010 17.35 WIB.





Kata Ulang, dan Salah Kaprah pada Dirinya

11 10 2010

Apa Itu Reduplikasi?

Salah satu konsep morfologis yang unik dalam bahasa Indonesia adalah reduplikasi. Reduplikasi adalah istilah linguistik untuk proses morfologis yang berupa pengulangan kata sehingga menghasilkan bentuk berulang atau kata ulangReduplikasi dan Kata ulang adalah sebuah materi pelajaran bahasa Indonesia yang kadang menuai masalah di kalangan para siswa — pengalaman pribadi seseorang yang pernah mengajar bahasa Indonesia di sebuah bimbel.

Pada dasarnya, kata ulang itu terdiri dari dua “wujud” kata, yaitu wujud dasar atau kata dasar, dan wujud tambahan. Wujud dasar biasanya berupa kata dasar yang akan diulang sedangkan wujud tambahan adalah kata yang ditambahkan dalam konstruksi kata ulang dan biasanya merupakan hasil modifikasi bentuk dasar sehingga mirip dengan bentuk dasar. Contoh hubungan pasangan tersebut bisa dilihat dalam ilustrasi di bawah.

Sifat ini berlaku kecuali pada kata berulang suku kata awal atau dwipurwa.

Jika melihat bentuk akhirnya, kata ulang dibagi menjadi:

  1. kata berulang utuh,
  2. kata berulang berubah bunyi,
  3. kata berulang suku kata awal,
  4. kata-ulang berimbuhan, dan
  5. kata-ulang semu.

Kata berulang utuh, adalah kata yang bentuk dasar dan bentuk tambahannya sama persis. Kata ulang utuh misalnya lari-lari, makan-makan, siang-siang, dan sebagainya — pokoknya, berupa pengulangan kata dasar sehingga terdiri dari kata yang sama persis.

Kata berulang berubah bunyi adalah kata ulang yang bentuk tambahannya mirip dengan bentuk dasar kecuali satu atau beberapa perubahan bunyi. Misalnya, sayur-mayur, lauk-pauk, serta-merta, pontang-panting, dan sebagainya. Dalam sayur-mayur, bentuk tambahannya adalah sayur yang [s]-nya diubah menjadi [m].Dalam lauk-pauk, bentuk tambahannya adalah lauk yang [l]-nya diubah menjadi [p]. Dalam pontang-panting, yang terjadi adalah penggantian vokal [o] dan [a] dalam pontang menjadi [a] dan [i] dalam panting.

Kata berulang-suku kata awal adalah kata ulang yang tidak memiliki bentuk tambahan; terdiri dari satu kata yang berupa ubahan dari bentuk dasar. Kata ulang ini tidak memunculkan bentuk dasarnya tetapi menampilkan bentuk baru. Perubahan yang terjadi adalah penambahan suku kata baru sebelum suku kata pertama bentuk dasar. Suku kata pertama itu terdiri dari  pengulangan onset* pada suku kata pertama bentuk dasar — yang menjadi suku kata kedua dalam bentuk berulangnya — dan penambahan fon baru sebagai nukleusnya**. Contohnya adalah lelaki, sesama, pepatah, tetangga, rerumput(an), tetua, dan sebagainya. Untuk mempermudah penjelasan pengertian di atas, silakan lihat bagan di bawah ini.

Salah Kaprah Tentang Kata Ulang

… (dilanjutkan besok, he he he)

 

 

Catatan:

* Onset adalah konsonan yang mendahului sebuah nukleus dalam satu satuan suku kata. Misalnya, [k] adalah onset dari suku kata kar.

** Nukleus adalah inti suku kata, biasanya terdiri dari vokal. Misalnya, [a] adalah nukleus dari suku kata kar.





Keluar dan Ke Luar

9 10 2010

Suatu hari, teman saya mengajukan pertanyaan setengah gurau setengah tantangan. Lebih kurang, dialognya begini:

Teman : Pertanyaan nih, kalo maju ‘kan (pasangannya) ke depan, kalo mundur (pasangannya) ke belakang, kalo minggir ke (pasangannya) samping, dan masuk (pasangannya) ke dalam. Nah, kalo keluar (pasangannya)?

Saya : Ya ke luar.

Teman : Yee, ‘kan harus beda, kaya masuk pasangannya ke dalam, nah kalo keluar apaan?

Saya : Yee, udah di bilangin ke luar. Beda dong, yang satu verba yang satu frasa adverbial. Ya kalo disebut pake omongan (bahasa Lisan) mah ngga jelas lah, kalo ditulis baru beda. Kalo keluar verba ke dan luar-nya disatuin; yang frasa adverbial mah nggak, soalnya ke-nya harus berdiri sendiri dulu, supaya jelas sebagai adverbia … Gitu boss.

Dari cerita setengah betulan setengah saduran di atas, tampak bahwa ada orang yang masih mengacaukan antara keluar dan ke luar. Dalam bahasa lisan, jelas antara kedua kata tersebut sulit sekali dibedakan. Saya sendiri mustahil membedakannya jika pengucapannya bukan dalam tataran kalimat. Akan tetapi, dalam bahasa tulisan, di antara kedua bentuk tersebut terdapat perbedaan yang memang sih tetap menunjukkan keserupaan tetapi tetap tak sama kok.

Keluarke dan luar ditulis bergabung — adalah verba dasar, maknanya ‘bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar’. Karena dia berupa verba dasar, dia berpotensi dan boleh diletakkan dalam posisi predikat suatu kalimat sehingga bolehlah disusun kalimat misalnya seperti berikut.

(1) Ratih keluar.

(2) Yang sudah selesai boleh keluar.

(3) Kami keluar jika yang lain keluar duluan.

Lain hal dengan ke luar. Ke luar adalah sebuah frasa adverbial yang hanya bisa mengisi posisi keterangan di dalam sebuah kalimat. Ke luar terdiri dari ke, adverbia yang berfungsi menjadi penunjuk tempat, dan luar yang bermakna ‘tempat bukan di dalam’.

Dalam analogi maju = ke depan, mundur = ke belakang, masuk = ke dalam terdapat analogi hubungan verba-posisi. Posisi tersebut dinyatakan dengan frasa adverbial. Frasa adverbial tersebut mengandung dua konstituen: (1) adverbia ke dan (2) nomina tempat yang koheren dengan tiap-tiap verba. Maju jelas bergerak ke depan, mundur jelas bergerak ke belakang, dan keluar, jelas bergerak menuju luar. Maju berlawanan dengan mundur begitupun depan berlawanan dengan belakang. Analogi perbandingan yang sama berlaku untuk dalam versus luar dan ini dapat dijadikan dasar pengujian mengenai apakah luar memang sah.

Jadi, hubungan keluar = ke luar itu saya pikir sah dan benar. Permasalahannya, kemiripan bunyi antara keluar dan ke luar dalam bahasa lisan adalah kebetulan semata karena dalam bahasa lisan, spasi dalam bahasa tulisan tidak serta merta harus diinterpretasi sebagai jeda. Ada spasi yang memang melambangkan jeda ada pula yang bukan.

Yang perlu diperhatikan penggunaannya menurut saya bukan masalah keabsahan pasangan keluar dan ke luar semata, tetapi justru penggunaan pasangan maju dan ke depan, mundur dan ke belakang, serta masuk dan ke dalam sekaligus dalam satu kalimat misalnya kalimat seperti ini.

(4) Yang sudah mendaftar segera masuk ke dalam.

(5) Mundur ke belakang tiga langkah!

(6) Siswa yang tidak mengerjakan tugas disuruh maju ke depan.

Setelah penjalasan tentang kesamaan makna antara maju dan ke depan di atas, bukankah kalimat-kalimat seperti nomor (4) sampai (6) itu mengalami pemborosan kata? Nah, demi penggunaan bahasa Indonesia yang efektif, kalimat boros karena penggunaan verba dan frasa adverbial yang bermakna sama seperti pada kalimat (4) sampai (6) hendaknya dihindari.

Salam.





Kecolongan dalam Penjamakan

6 10 2010

Jamak dalam linguistik adalah bentuk kata yang menyatakan lebih dari satu atau banyak. Di dalam bahasa Indonesia, jumlah jamak adalah jumlah yang lebih dari satu. Pengertian yang sama terdapat pada bahasa Inggris. Pengertian yang sedikit berbeda adalah pada bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, jamak adalah jumlah lebih dari dua; karena jumlah dua disebut mutsanna.

Di dalam sistem bahasa-bahasa, sifat jamak ditunjukkan melalui berbagai cara. Cara tersebut bergantung terhadap berbagai unsur bahasa lain dalam satu wacana tersebut. Misalnya, dalam bahasa Inggris, penjamakan terhadap nomina ditandai dengan (1) to be jamak, morfem -s dan alomorfnya yang menempeli nomina yang dijamakkan, (3) penggunaan kata tunjuk jamak, (4) pemerian jumlah sebelum kata yang dimaksud, dan sebagainya. Contoh:

(1a) This is a pen

(1b) These are pens

Kalimat (1a) menggunakan penunjuk this dan to be is serta kata depan a. Dari unsur-unsur ini kita mengetahui bahwa pen di kalimat itu hanya ada satu. Beda dengan (1b) yang menggunakan these dan are. Jika diperhatikan, tampak bahwa penggunaan this dan is serta these dan are selalu berpasangan. Pasangan ini akibat adanya sistem concord di dalam bahasa Inggris, yaitu persesuaian — saya lebih senang menyebutnya sebagai kekompakan – antarbagian-bagian konstituen kalimat.

Di dalam bahasa Indonesia, tidak ada to be dan kata tunjuk sepert ini dan itu tidak dapat menunjukkan penjamakan. Secara sintaktis Bahasa Indonesia tidak menunjukkan penjamakan seperti concord to be di dalam bahasa Inggris — karena memang tidak punya to be – tetapi menunjukkannya secara leksikal. Artinya, bahasa Indonesia menunjukkan penjamakan menggunakan kata yang memang bermakna jamak. Kata yang bermakna jamak itu banyak sekali, misalnya beberapa, para, sejumlah, dan tentunya bilangan selain satu. Contoh untuk itu dapat ditunjukkan dalam kalimat berikut.

(2) Para relawan berjalan menyusuri jalan setapak sejauh 4 km yang membelah hutan.

(3) Ketua BEM dan beberapa kepala departemennya akhirnya bersedia untuk bertemu dengan dekan.

(4) Para pelatih telah mempersiapkan sejumlah latihan khusus untuk tim.

Untuk penunjukkan kejamakan melalui taktik morfologis, bahasa Inggris punya morfem -s yang menunjukkan jamak seperti pens dalam kalimat (1b ) sedangkan bahasa Indonesia menunjukkannya melalui reduplikasi atau bentuk berulang. Misalnya, buku jelas beda dengan buku-buku, sayur jelas beda dengan sayur-mayur, surat-surat jelas beda dengan surat.

Satu hal yang patut dicamkan baik-baik adalah dalam bahasa Indonesia, karena tidak ada sistem concord, penjamakan hanya menggunakan salah satu dari metode-metode di atas. Dengan demikian, apabila dalam satu kalimat penjamakan sudah ditandai dengan kata jamak seperti beberapa, semua atau para, tidak perlu lagi menandai penjamakan melalui reduplikasi; sehingga tidak pernah terbentuk kalimat seperti ini:

(5) Semua surat-surat itu akan dibuang dari lemari arsip.*

Sayangnya, para penutur bahasa Indonesia sering kecolongan mengenai hal seperti ini. Dugaan saya, ini akibat (1) kebiasaan yang salah, (2) kurang pahamnya cara penjamakan di dalam bahasa Indonesia, dan (3) kurang pahamnya makna kata dipakai — dalam hal kejamakannya.

Khusus sebab ketiga, banyak sekali contohnya. Kalimat-kalimat di bawah ini contohnya.

(6) Para hadirin dan hadirat sekalian, selamat datang di acara ini.

(7) Oleh karena satu dan lain hal, kegiatan ini akan diundur tiga hari.

(8) Mereka adalah para relawan yang akan berangkat besok.

Kalimat (6) memiliki kata para, hadirin, dan hadirat. Kata para sudah jelas menunjukkan kejamakan. Kata hadirin dan hadirat adalah nomina dari bahasa Arab yang sebenarnya sudah bermakna jamak. Rupanya penutur bahasa Indonesia menyerap dan menggunakan kata ini tanpa paham betul maknanya — kasus yang sama terjadi pada kata alumni dan alumnus yang sering dianggap sama dan dipertukarkan penggunaannya.

Kalimat (7) menunjukkan ketidak kekonsistenan penunjukan jumlah hal. Awalnya disebut satu hal, kemudian disebut pula lain hal. Jadi, sebenarnya hal yang dimaksud ada satu atau ada yang lain?

Kalimat (8) memiliki kata mereka yang jelas-jelas bermakna jamak dan kata para yang lagi-lagi menunjukkan jamak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahasa Indonesia hanya menggunakan salah satu metode penjamakan untuk menunjukkan penjamakan dalam satu kalimat. Singkatnya, pilih salah satu! Kalimat (8) justru menggunakan dua penanda jamak padahal semestinya, pilihlah salah satu: penggunaan mereka tanpa para atau para tanpa mereka.

Semoga dengan pemaparan ini, kita para pengguna bahasa Indonesia dapat menjadikan bahasa kita ini lebih baik dan terhormat  dengan menggunakannya secara semestinya dan sebaik mungkin.

Salam!





Sekilas Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

5 10 2010

Pertama kali bahasa Indonesia memiliki ejaan adalah ejaan yang disusun Mr. Soewandi. Namun tahukah Anda, bahwa sebenarnya cikal bakal tata ejaan untuk bahasa yang kita pakai ini pertama kali disusun pada 1901 dalam Kitab Logat Melayu yang judul aslinya adalah Maleische Spraakkunst? Buku tata bahasa Melayu ini disusun oleh Charles Adrian van Ophuijsen dan dibantu oleh asistennya yang orang Melayu. Ketika itu, bahasa yang digunakan di Nusantara memang masih bahasa Melayu. Akan tetapi, setelah disepakatinya nama dan penggunaan bahasa Indonesia, rakyat Indonesia menyebut bahasa mereka sebagai bahasa Indonesia.

1. Ejaan van Ophuijsen

Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.

  1. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jangpajahsajang.
  2. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroeitoeoemoer.
  3. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer‘akalta’pa’dinamai’.

2. Ejaan Soewandi

Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.

  1. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guruituumur.
  2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata takpakmaklumrakjat.
  3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2ber-jalan2ke-barat2-an.
  4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di padadirumahdikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis,dikarang.

3. Ejaan Melindo

Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.

– Dikutip dari Cermat Berbahasa Indonesia karangan Zainal Arifin dan S. Amran Tasai





Teve dan tivi

30 09 2010

Hari ini benar-benar luar binasa. Ha ha ha. Empat kelas, masing-masing 2 1/2 jam. Tanpa rehat selain rehat salat dan makan chocolatos. Parah, makan siang pun harus dirapel ke makan magrib (karena makan malam harus pindah ke jam 23). Dari jam 8 pagi sampai 18 petang ini rasanya memang hanya beberapa jam, tapi gempor-nya itu ibarat kemping 4 hari 4 malam.

Hari ini adalah pertemuan pertama kelas-kelas yang dimasuki. Oleh karena itu, materi yang dibawakan pun hanya sekadar cerita sejarah ejaan bahasa Indonesia dan sedikit materi tentang kapitalisasi dan penggunaan huruf miring. Tapi sebelum itu, saya sedikit mencoba “menggoda” mereka dengan pertanyaan: Kenapa sampai kuliah pun masih ada yang namanya pelajaran bahasa Indonesia itu? Setelah itu, saya beri contoh jawaban sederhana dengan mengajak mereka mengeja kata berikut.

  • TVRI
  • ANTV
  • RCTI
  • TRANS TV
  • GLOBAL TV
  • METRO TV

Lantas, benarlah apa yang diduga. Seperti kebanyakan orang yang memang sudah disesatkan media dan lingkungan mengenai pengejaan TV, kebanyakan dari mereka tidak konsisten dalam penyebutan tersebut. Ketika mengeja TVRI dan ANTV mereka menyebut te dan ve tetapi giliran mereka menyebut TRANS TV, GLOBAL TV, dan METRO TV, mereka menyebut itu semua dengan ti dan vi.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang mungkin telah menjadi korban media televisi itu sendiri ataupun korban lingkungan yang juga salah mengucapkan. Saya yakin, ketika diajarkan membaca, t dan v dibaca te dan ve. Namun demikian, ingatan itu sepertinya telah terhapus oleh zaman atau memang yang mereka ingat adalah pengucapan yang salah itu.

Oke, sekarang janganlah salah-menyalahkan. Yang penting adalah selanjutnya apa yang perlu dilakukan? Pertama, pembiasaan. Kedua, penerapan. Setelah terbiasa menerapkan, apa yang tadinya dianggap tidak lazim itu dengan sendirinya akan dianggap lazim jadi janganlah ketidaklaziman sesuatu yang benar itu dijadikan alasan penghindaran penggunaan ejaan yang tepatnya.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.