Teve dan tivi

30 09 2010

Hari ini benar-benar luar binasa. Ha ha ha. Empat kelas, masing-masing 2 1/2 jam. Tanpa rehat selain rehat salat dan makan chocolatos. Parah, makan siang pun harus dirapel ke makan magrib (karena makan malam harus pindah ke jam 23). Dari jam 8 pagi sampai 18 petang ini rasanya memang hanya beberapa jam, tapi gempor-nya itu ibarat kemping 4 hari 4 malam.

Hari ini adalah pertemuan pertama kelas-kelas yang dimasuki. Oleh karena itu, materi yang dibawakan pun hanya sekadar cerita sejarah ejaan bahasa Indonesia dan sedikit materi tentang kapitalisasi dan penggunaan huruf miring. Tapi sebelum itu, saya sedikit mencoba “menggoda” mereka dengan pertanyaan: Kenapa sampai kuliah pun masih ada yang namanya pelajaran bahasa Indonesia itu? Setelah itu, saya beri contoh jawaban sederhana dengan mengajak mereka mengeja kata berikut.

  • TVRI
  • ANTV
  • RCTI
  • TRANS TV
  • GLOBAL TV
  • METRO TV

Lantas, benarlah apa yang diduga. Seperti kebanyakan orang yang memang sudah disesatkan media dan lingkungan mengenai pengejaan TV, kebanyakan dari mereka tidak konsisten dalam penyebutan tersebut. Ketika mengeja TVRI dan ANTV mereka menyebut te dan ve tetapi giliran mereka menyebut TRANS TV, GLOBAL TV, dan METRO TV, mereka menyebut itu semua dengan ti dan vi.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang mungkin telah menjadi korban media televisi itu sendiri ataupun korban lingkungan yang juga salah mengucapkan. Saya yakin, ketika diajarkan membaca, t dan v dibaca te dan ve. Namun demikian, ingatan itu sepertinya telah terhapus oleh zaman atau memang yang mereka ingat adalah pengucapan yang salah itu.

Oke, sekarang janganlah salah-menyalahkan. Yang penting adalah selanjutnya apa yang perlu dilakukan? Pertama, pembiasaan. Kedua, penerapan. Setelah terbiasa menerapkan, apa yang tadinya dianggap tidak lazim itu dengan sendirinya akan dianggap lazim jadi janganlah ketidaklaziman sesuatu yang benar itu dijadikan alasan penghindaran penggunaan ejaan yang tepatnya.





Memasukkan Player Lagu di Artikel WordPress

28 08 2010

Anda para pemakai WordPress, pernahkah ingin memasukkan file mp3 agar bisa diputar atau didengarkan melalui blog? Atau pernahkah anda ingin mem-posting suatu lagu yang Anda suka atau Anda rekomendasikan untuk didengar kepada orang lain? Untuk tujuan itu, tentunya Anda pernah mencoba melakukan pengunggahan media mp3? Dan apakah akhirnya Anda kecewa karena fasilitas pengunggahan media mp3 tidak didukung sebelum Anda mengupgrade blog Anda itu ke paket Pro yang berbayar? Hahaha, semua orang pakai yang memakai WordPress sering kesal dengan kekurangan ini, ya saya salah satunya. Masa sih, cuma untuk mengunggah mp3 yang ingin dibagi-dengarkan dengan orang lain kita harus upgrade dulu paket?

Akan tetapi, sekarang tidak perlu kesal dan bingung lagi. Anda tetap bisa kok memperdengarkan lagu pilihan Anda itu melalui blog WordPress kesayangan Anda itu. Tapi, ini butuh sedikit trik. Mudah kok, cuman asal mau repot aja sedikit, he he he … Oke, mari mulai kalau begitu.

Untuk memperdengarkan lagu dalam suatu artikel blog, dibutuhkan interface pemutar lagu tersebut. Interface ini nantinya yang menjadi kontrol kita untuk memutar dan menghentikan lagu serta untuk membesarkan dan mengecilkan suara. Nah, secara standarnya, interface ini akan muncul jika Anda mengunggah lagu ke WordPress. Tapi, tentu itu kasusnya kalau blog Anda adalah paket yang berbayar. Oleh karena blog standar yang gratisan tidak mengizinkan pengunggahan media lagu seperti mp3, tentunya Anda tidak bisa memunculkan kontrol interface ini dengan cara biasa. Oke, trik untuk memasukkan lagu ke dalam artikel adalah sebagai berikut.

(1) Tentukan lagu yang akan Anda masukkan ke dalam blog. Setelah dapat, unggah file tersebut ke situs file hosting yang mengizinkan anonymous access. Jika tidak ketemu, Anda bisa menitip pada situs webhosting. Pada contoh ini, saya menitipkan file ini pada akun webhosting saya di 110mb.com yang sudah basi (maksudnya udah nggak dipake lagi =p). Lumayan kapasitas dan bandwidthnya bisa dimanfaatkan lah, he he he .. Anda bisa menggunakan file hosting atau web hosting manapun, asal diizinkan melakukan hotlinking. Misalnya, Stashbox.org. Untuk di Stashbox.org, Anda perlu registrasi terlebih dahulu. Tapi tenang, gratis kok~!

Tampilan Stashbox.org

(2) Setelah selesai mengunggah, salin alamat file yang Anda unggah. Untuk contoh, saya pakai Stashbox.org. Di Stashbox.org, setiap selesai mengunggah akan ditampilkan identitas file dan alamat link-nya. Alamat inilah yang diperlukan! Salin alamat file dari boks URL di kolom HTML/Forum Code.

Salin alamat file dari kotak URL

(3) Oke, urusan titip-menitip file beres. Sekarang kembali ke WordPress. Buka Dashboard, kemudian buat tulisan baru (new post).

(4) Pada editor teks, pilih mode HTML. Kemudian, kembali ke teks editor, tikkan kode berikut ini (tanpa tanda kutip, tentunya!).

” <code> [http://stashbox.org/979885/Yoko%20Kanno%20%26%20Ilaria%20Graziano%20-%20I%20Do.mp3] </code> “

(5) Kembali ke modus Visual dengan mengeklik Visual dari tab editor teks. Simpan konsep, lalu klik Terbitkan (publish). Oh ya, jangan lupa untuk memberi judul. Tapi kalau Anda hanya ingin membuat artikel latihan yang nantinya akan dihapus, Anda bisa membiarkannya tanpa judul.

(6) Oke, lihat hasilnya dengan mengeklik pada Lihat Tulisan yang muncul di atas teks editor. Apabila Anda melakukan semua tahapan dengan benar (terutama bagian penulisan kodenya) akan muncul sebuah player di dalam artikel postingan Anda. Jika Anda klik tombol play-nya, file lagu yang tadi sudah disisipkan kode URL-nya akan diambil oleh (buffering) dan dimainkan oleh si player tersebut. Nah, untuk melengkapi, bagaimana jika Anda memberikan teks lirik pula pada artikel lagu tersebut? Siapa tahu pembaca Anda tertarik dan ingin tahu liriknya sekalian?

Sebagai tambahan, saya melampirkan tautan. Tautan di bawah ini adalah artikel contoh penerapan kontrol player lagu. Lagu yang saya sisipkan di sini adalah I Do dari album Ghost In The Shell, Stand Alone Complex: Solid State Society yang dinyanyikan oleh Ilaria Graziano dan diaransemen oleh Yoko Kanno.

http://metalingua.wordpress.com/2010/08/28/ilaria-graziano-i-do/

Semoga bermanfaat~!





Ilaria Graziano – I Do

28 08 2010



Title : I Do

Album : Ghost In The Shell Stand Alone Complex: Solid State Society 2nd GIG Original Soundtrack

Vocal : Ilaria Graziano

Nell’illusione ho creduto alla mia forza inesorabile
E inevitabilmente sono diventata debole
Ora sento gli eventi si trasformano e so già
Di emozioni che aprono ricordi lontani

Nell’anima ritrovo la speranza che nel corpo stanco ormai
Ha smesso di vibrare come un fuoco spento dal mio pianto
Tra le mani un filo d’acqua porterò con me e
Nel deserto un filo d’erba sopravviverà

I do, i do emergere dal fondo per lottare e poi
Salire in alto più che mai
I do, i do guardare nel futuro e sorridere
Senza temere nulla più

In un istante nuove aspirazioni anche se davanti a me
Si apre uno scenario di conquiste e smarrimenti,
Nel silenzio, riflessi di epoche lasciate via
Respirando ne avverto il moto circolare e poi…

Il tempo si è fermato per tracciare nuovi confini, ed io
Mi spingerò lontano raccogliendo le mie forze nel vento
Tra le mani riflessi di epoche lasciate via
Camminando ritrovo le tracce indelebili

I do, i do gridare contro gli occhi spenti e gelidi
Per essere sempre di più
I do, i do oltrepassare mondi inespugnabili
Senza temere nulla più…
I do, i do emergere dal fondo per lottare e poi
Salire in alto più che mai
I do, i do guardare nel futuro e sorridere
Con una nuova identità
Fino a quando il sole sorgerà

I do …





Marukaite Chikyuu Italia Version

28 08 2010

Nee nee papa wain choudai
Nee nee mama nee nee mama
Mukashi ni tabeta boroneeze no
Ano aji ga wasurerarenainda

Marukaite chikyuu
Marukaite chikyuu
Marukaite chikyuu
Boku Hetalia

Marukaite chikyuu
Jitto mite chikyuu
Hyotto shite chikyuu
Boku Hetalia

Aa hitofude de
Mieru subarashii sekai
Nagagutsu de kanpai da
Hetalia!

(“Ah~ Onaka suita. Ore… pasuta ga tabetai na~!”)

Marukaite chikyuu
Marukaite chikyuu
Marukaite chikyuu
Boku Hetalia

Marukaite chikyuu
Hatto shite chikyuu
Funzori kaette chikyuu
Boku Hetalia

Aa hitoyude de
Nakeru shiawase no Recipe
(“Men ha arudente da.”)
Yume no CHAKKU zenkai da
Hetalia!

HEIHEI FRATELLO pasta wo choudai
Tsuide ni SORELLA yude toite kudasai
OIOI nonno hewa ga ee~ wa
HAIHAI BAMBINO (Boku no tama deshuka?)
guigui papa WAIN mo choudai

Nee nee mama nee nee mama
Mukashi ni tabeta BORONEEZE no
Ano aji ga wasurerarenainda!

Hetalia! Hetalia!
Hetare Hetalia!

Marukaite chikyuu
Marukaite chikyuu
Marukaite chikyuu
Boku Hetalia

Aa hitofude de
Mieru subarashii sekai
Nagagutsu de kanpai da
Hetalia!

Aa sekaijuu ni
Nemuru shiawase no Recipe
Nagagutsu de kanten da
Hetalia!





Mengapa Harus Menghindarkan Verba me(N)- dalam Teks Karya Ilmiah?

28 08 2010

Ketika dulu saya diajarkan penulisan karya ilmiah, ada satu hukum yang selalu saya ingat sampai sekarang. Aturan tersebut berbunyi, “Hindarkan penggunaan verba me(N)- dan konfiks yang mengandung afiks itu dalam penulisan teks karya ilmiah.” Lho, memangnya kenapa? Dan pertanyaan keheranan dan tidak mengerti ini dijawab oleh dosen, “Untuk menghindarkan kesan subjektif.”

Sampai di situ, saya benar-benar tidak mengerti, di mana subjektifitasnya. Sebenarnya saya siap untuk melanjutkan pertanyaan balasan, tapi ketika melihat teman lain mengacungkan tangan untuk bertanya dan sang dosen pun mengalihkan perhatiannya ke teman itu, saya mengurungkan niat. Tapi di dalam hati dan pikiran, kata tanya mengapa, mengapa, dan mengapa terus berulang. Sampai besoknya, ketika akhirnya pertanyaan itu terlupa oleh memori saya yang sudah jelek dari sananya ini.

Namun kemudian, setelah belajar ilmu yang namanya Kajian Wacana, Analisis Pragmatik, dan Analisis Wacana Kritis, saya jadi bisa menyimpulkan sendiri jawaban pertanyaan itu. Ya, meskipun ini hasil hipotesis saya sendiri, tapi saya percaya bahwa ini bisa dipertahankan (wuih, pede banget sih, ha ha).

Nah, begini penjelasannya. Prefiks me(N)-, jika dilihat dari ciri keaktifannya berfungsi “mengaktifkan” suatu verba. Oleh karena itu, kalimat yang gatra/posisi predikatnya diisi oleh verba berprefiks me(N)- disebut kalimat aktif. Prefiks di- berfungsi memasifkan verba sehingga kalimat yang memiliki predikat yang diisi oleh verba berprefiks me(N)- disebut kalimat pasif. Nah, lantas, apa hubungannya dengan objektif-subjektif?

Oke, dalam kalimat aktif, pelaku ditempatkan di depan verba sedangkan objek yang dikenai perbuatan oleh pelaku diletakkan di belakang verba; sehingga polanya menjadi |pelaku| + verba + |objek| dengan konstruksi makna <pelaku> melakukan <verba> terhadap <penderita>. Kalau konstruksi itu dikategorisasi berdasarkan tata bahasa tradisional, akan terbentuk S + P + (O). Nah, ingat tidak, bahwa dalam susunan konstruksi sintaktis-semantis kalimat bahasa Indonesia, unsur yang diletakkan di depan adalah unsur yang ditonjolkan/difokuskan/diperhatikan/dijadikan titik sudut pandang. Lantas, dalam kalimat aktif, unsur apa yang diletakkan paling depan? Pelaku, dan menempati posisi apa? Subjek. Nah, karena subjek yang dijadikan fokus (dan menjadi unsur wajib sementara objek yang menjadi takwajib),  kalimat aktif dianggap subjektif.

Sekarang, mari struktur tilik kalimat pasif. Pada kalimat pasif bahasa Indonesia, umumnya posisi pelaku dan penderita ditukar. Pelaku yang pada kalimat aktif berada di depan verba ditempatkan di belakang verba dalam kalimat pasif. Sebaliknya, penderita yang dalam kalimat aktif berada di belakang, dipindahkan ke depan dalam kalimat aktif. Dengan demikian, konstruksi yang terbentuk adalah |penderita| + verba + |pelaku|. Konstruksi gatra yang tersusun adalah O + S + (P). Unsur yang ditonjolkan/dijadikan fokus adalah objek dan sementara subjek menjadi unsur takwajib. Dengan demikian, kalimat pasif dianggap menunjukkan objektifitas.

Sebagai bahan perbandingan, mari amati beberapa contoh konversi kalimat aktif-pasif sederhana berikut ini.

Aktif:
(1a) Hilman menggunting kertas.
(1b) Hilman menggunting.

Pasif:
(1c) Kertas digunting Hilman
(1d) Kertas digunting.

Aktif
(2a) Nanan membongkar mesin cuci.
(2b) Nanan membongkar* (tidak berterima karena kalimat ini berverba transitif wajib)

Pasif
(2c) Mesin cuci dibongkar Nanan.
(2d) Mesin cuci dibongkar. (Akan tetapi, pada bentuk pasifnya kalimat ini berterima karena tidak ada transitivitas dalam kalimat pasif)

Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat dan tidak keliru. Apabila ada kesalahan mohon dikoreksi; apabila ada kekurangan mohon ditambahi.

Salam linguis ~!





Cencoroll, The Film

4 08 2010

Cencoroll, sebuah anime bertema sci-fi yang ditulis, didesain, disutradarai, dan dianimasi oleh satu orang, si pengarang manganya sendiri, Atsuya Uki. Film yang aslinya akan dijuduli Untitle ini diangkat dari manga karya Atsuya Uki sendiri, Amon Game yang memenangkan Grand Prix Award Kodansha Afternoon Shiki pada 2005.

Ketika Anime Innovation Tokyo memulai inisiatif untuk mensponsori anime-anime yang diproduksi oleh animator independen dan studio-studio kecil, mereka memilih Cencoroll untuk proyek sponsor mereka. Pada 2007, Uki membuat film pendek Cencoroll dan mendistribusikannya melalui internet. Setelah melihat berbagai komentar dan kritik yang positif, Uki akhirnya memutuskan untuk menulis, mendesain, menyutradarai, dan menganimasi film Cencoroll yang berdurasi 30 menit.

Sudah berbulan-bulan anime ini menduduki tangga pertaa wishlist chart anime saya. Sayangnya, belum ketemu juga ini film. Udah nyari-nyari ke mana-mana tapi belum nemu. Dari Disctarra, Pasar Kota Kembang, sampai si Magrib di Jatinangor sudah dikunjungi, tapi masih belum tampak juga sampul film ini dipajang. Ohh, masa sih harus unduh lagi dari Internet?

Alasan pengen nonton ini ada tiga. Pertama, fakta bahwa anime ini dikerjakan secara independen, jadi mungkin bisa diistilahkan sebagai indie anime. Anime ini ditulis, didesain, disutradarai, dan dianimasi oleh Atsuya Uki sendiri, dibantu beberapa orang asistennya tentu. Kedua, dua lagu yang dipakai oleh film ini rupanya sudah merasuki hati saya, dan musisinya adalah Ryo dari Supercell. Kedua lagu itu adalah Love and Roll dan Theme of Cencoroll. Ketiga, Cencoroll punya gaya desain karakter yang khas, tidak standar desain karakter anime Jepang pada umumnya.

Nah, ada yang mau ikut nonton?





Skywriting: Seni, Penerbangan, dan Asap

2 08 2010

Pernahkah Anda melihat beberapa baris pesawat lewat dan menyisakan bekas asap di langit? Pemandangan yang sudah tidak aneh, mungkin. Akan tetapi, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang berputar-putar di atas langit sambil mengeluarkan asap, dan setelah pergi, terbentuklah sebuah tulisan di langit seperti pada gambar di samping?

Pemandangan yang mungkin belum awam dilihat di Indonesia. Akan tetapi, pemandangan seperti itu hampir tidak aneh di negara-negara luar yang mengenal apa yang disebut dengan skywriting.

Jika diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris, skywriting bisa diartikan ‘menulisi langit’. Seperti namanya, skywriting memang “menulisi” langit. Akan tetapi, bukan menulis dengan alat tulis biasa yang dapat ditemukan di toko alat tulis atau kios fotokopi terdekat. Alat tulis yang digunakan dalam skywriting adalah pesawat terbang! Ya, jelas saja, bagaimana coba caranya menjangkau kanvas biru indah yang selalu menaungi kita ketika siang dan berubah hitam kelam ketika malam itu tanpa suatu alat transportasi yang bisa mengudara seperti pesawat terbang.

Disebut seni dan disebut aktrasi, skywriting digunakan untuk berbagai macam hal. Mulai dari sebagai bagian atraksi pesawat terbang dengan kata-kata pesan yang tidak jelas, penyampaian pesan pribadi (seperti ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat pernikahan, atau pengajuan lamaran pernikahan), pengumuman, bahkan untuk beriklan.

Berdasarkan surat Albert T Raid yang dialamatkan kepada koran The New York Times, disebutkan bahwa skywriting pertama kali disempurnakan tekniknya pada 1918 di Inggris Raya dan mulai diterapkan oleh orang-orang di Amerika pada tahun berikutnya, 1919. Pertama kalinya skywriting digunakan untuk pengiklanan atau tujuan advertensi adalah pada tahun 1922.

Skywriting menggunakan pesawat terbang kecil agar mampu bermanuver lincah dan akurat di ketinggian. Pesawat yang umumnya bertipe turboprop (bermesin baling-baling) ini dipasangi sebuah alat yang disebut smoke generator. Alat ini berupa wadah (container) bertekanan tinggi yang menampung minyak/oli berviskositas rendah. Oli yang dikompres ini diinjeksi ke dalam pipa pembuangan asap (knalpot) pesawat sehingga menghasilkan gumpalan asap tebal. Sayangnya, hasil skywriting tidak pernah permanen. Dalam beberapa menit, tulisan yang dibuat bisa hilang atau mengalami blur karena tiupan angin yang kencang di ketinggian. Akan tetapi, pada masa-masa selanjutnya, ditemukanlah teknik menulis “dot matrix” yang hasilnya dapat bertahan lebih lama di langit. Selan itu, pada atraksi skywriting modern, para pilot dibantu bimbingan navigasi dari satelit sehingga tulisan yang dibuat dapat lebih akurat dan jelas.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.