Ciri-ciri Psikis Manusia Indonesia Menurut Muchtar Lubis (Episode 2 – Ciri-ciri Psikis)

10 04 2010

(Episode 2 – Ciri-ciri Psikis)

Sebelum berlanjut ke episode tiga (maaf, tulisan ini akan bersambung menjadi 13 episode, seperti miniseri sinetron), saya akan memaparkan sekilas apa saja sifat-sifat manusia Indonesia yang akan saya bahas dan komentari di tulisan-tulisan selanjutnya. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut.

(1)        Hipokrit

(2)        Segan dan enggan bertanggung jawab

(3)        Berjiwa feodal

(4)        Percaya pada takhyul

(5)        Artistik

(6)        Watak yang lemah

(7)        Tidak hemat; cenderung boros

(8)        Tidak suka bekerja keras kecuali terpaksa

(9)        Cepat cemburu

(10)    Suka meniru

(11)    Malas

Meskipun ciri-ciri di atas didomniasi oleh ciri-ciri yang terkesan negatif, manusia Indonesia rupanya punya juga sifat-sifat positif seperti:

(a)    Suka hidup harmonis dengan orang lain

(b)   Kasih sayang orang tua kepada anak-anak dan sebaliknya

(c)    Berhati lembut dan suka hidup damai

(d)   Memiliki rasa humor yang tinggi

(e)    Cepat dalam belajar, mudah dilatih bermacam-macam keterampilan

Meskipun manusia Indonesia memiliki sifat-sifat positif, dari daftar di atas tampak bahwa orang Indonesia lebih banyak memiliki yang negatif daripada yang positif. Satu poin introspeksi untuk kita sebagai orang Indonesia!

Pada episode 1, sedikit telah saya ceritakan tentang pandangan bangsa asing, dalam hal tersebut adalah Belanda yang pernah datang dan berkoloni ke negeri ini. Mereka memandang bahwa orang Indonesia itu khianat, tidak mau memegang teguh perjanjian, suka membunuh, suka berperang, tidak jujur, seperti binatang, dan kejam. Penilaian tersebut memang ditarik dari keadaan masyarakat Nusantara pada saat itu yang masih tradisional dan relatif primitif. Saya katakan “primitif” karena ini jika dilihat dari sudut pandang bangsa Barat yang pada saat itu selalu menganggap bahwa kebudayaan dan teknologi mereka lebih maju daripada bangsa lain. Dengan demikian, bukankah penilaian tersebut sudah tidak berlaku lagi bagi masyarakat Indonesia zaman sekarang yang notabene telah mengenal modernisasi dan mengikuti teknologi? Oh, belum tentu.

Coba kita lihat penilaian pertama dan kedua lalu renungkan. Belanda di masa lampau menuduh bahwa kita itu bangsa yang khianat dan tidak memegang teguh perjanjian. Betulkah? Penilaian ini mungkin ditarik dari pengalaman-pengalaman bangsa Belanda yang sering membuat perjanjian dengan pihak-pihak kerajaan di Nusantara namun sering dilanggar oleh kerajaan itu sendiri. Memang, di buku sejarah kita selalu mengenal bahwa Belanda adalah pihak yang sering mengkhianati perjanjian. Akan tetapi, jika kita melihat masalah tersebut dari pihak Belanda, tentu pemikiran bahwa Indonesialah yang berkhianat tidak salah; karena Belanda – baik benar ataupun salah – tentu tidak ingin dipersalahkan. Meskipun demikian, ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang Indonesia itu suka berkhianat.

Contoh sederhananya, ambil dari cuplikan kenakalan-kenakalan kita atau orang lain di kehidupan sehari-hari. Merebut pacar orang, merebut istri orang, membohongi suami/istri, berdusta kepada orang tua, melanggar sumpah dokter, melanggar sumpah pengacara, melanggar sumpah hakim, polisi yang menjadi mafia hukum, mengorupsi anggaran dari proposal suatu acara, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Kalau hal-hal tersebut bukan contoh-contoh bentuk pengkhianatan, lantas apa?

Penilaian kedua, orang Indonesia itu suka membunuh, suka berperang, seperti binatang, dan kejam. Pada zaman kerajaan, ketika Belanda baru mendarat di Indonesia, Nusantara ini terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan baik kecil maupun besar. Entah karena perebutan kekuasaan, konflik keluarga, atau yang lain, bahkan sebelum Belanda akhirnya harus berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan tersebut, kerajaan-kerajaan itu sudah saling bertikai dan berperang. Kebetulan, Belanda tergolong bangsa yang cerdik dalam berperang. Mereka memiliki strategi sendiri. Berhubung kerajaan-kerajaan ini sudah dalam keadaan saling terpecah, Belanda merasa menggunakan metode divide et impera (sebuah istilah dari buku pelajaran SD yang mungkin sudah tidak diketahui oleh anak SD zaman sekarang). “Biarkan saja mereka saling memakan, daripada kita yang repot berperang.” Mungkin, kurang lebih begitu kalimat yang ada di kepala para ahli strategi kerajaan Belanda pada saat itu melihat keadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang terpecah-pecah.

Bentuk penilaian kedua ini rupanya tidak hilang sama sekali sampai tiga ratus tahun lebih setelah Belanda pertama kali berlabuh itu. Perang antarsuku, konflik antaragama, perkelahian antarkampung, tawuran antarpelajar, kekerasan dalam rumah tangga, keributan antargolongan, demonstrasi yang berujung pada bentrok, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah contoh yang menunjukkan bahwa orang Indonesia cenderung menyelesaikan masalah dengan otot dan parang daripada otak dan lisan. Bahkan, penyelesaian yang dilakukan melalui otak dan lisan seringkali berujung perang tanding otot dan parang. Nah?

Penilaian ketiga, orang Indonesia itu tidak jujur. Betulkah? Coba lihat praktik penggunaan minyak goreng bekas oleh beberapa penjual gorengan, penipuan timbangan, korupsi anggaran proyek,

Selain penilaian orang-orang Belanda zaman dahulu itu, ada pula dokumentasi penilaian dari bangsa Cina yang pernah tinggal di Nusantara. Seorang musafir bernama Ma Huan, pernah singgah di Jawa pada 1416 M. Kunjungannya itu dicatat dalam sebuah jurnal pribadi. Dalam catatan tersebut, ia menyebutkan bahwa orang pribumi Nusantara itu sangat jorok, rambutnya tidak disisir, tidak beralas kaki, sangat percaya pada hal-hal klenik, dan makanannya pun higienis karena hanya sekedar dipanggang sebentar di atas api (Waridah dkk, 2003: 105).

Bisa Anda bayangkan seperti apa kehidupan orang Nusantara zaman itu? Selama ini, gambaran kita tentang kehidupan masa lalu adalah kehidupan yang sudah tertata baik seperti di dalam kraton-kraton Jawa. Ya, itu kehidupan di dalam kraton. Di luar kraton? Apakah Anda menganggap bahwa kehidupan orang nonkraton pada saat itu seperti kehidupan di pedesaan terpencil sekarang? Penarikan simpulan seperti itu tidak akurat karena rentang waktunya yang sangat jauh. Soalnya, bahkan orang-orang di desa terpencil pun bisa berkembang, apalagi dalam jangka waktu 600 tahun sejak datangnya Ma Huan. Bayangan kita tentang kehidupan di masa lalu sudah dikaburkan dengan cerita-cerita dongeng/folklor yang cenderung istanasentris (berorientasi pada kehidupan istana) dan utopis; padahal belum tentu apa yang diceritakan dongeng itu bisa sama dengan apa yang terjadi di masa nun jauh lampau. Dongeng adalah dongeng, sulit untuk dianggap sebagai dokumentasi sejarah karena bersifat fiktif; beda ceritanya dengan riwayat.


Aksi

Information

3 tanggapan

12 06 2010
aries rachmandy

sebuah artikel yang menarik.!!
memotivasi diri
terimakasih

9 01 2011
d.Nst

100% SETUJU…..sy mencoba mengamati sekitar saya..dan..memang betul..(Sikap negatif)… Dan saya jadikan salah satu parameter sikap yg harus dihindari o/ saya dalam bekerja…dan sehari hari…

20 06 2012
Anonymous

saya mah satuju pisan eta teh, lantaran jelema ayenamah lain dibibir lain dihati, jiga nu enya sok alim padahal hatenmah busuk jiga cangkang kadu, sok gera teleman kahirupan ayeuna didunya beki mahabu, loba jelema ngaku-ngaku al;iom padahal lewih ti iblis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: