Mengapa Harus Menghindarkan Verba me(N)- dalam Teks Karya Ilmiah?

28 08 2010

Ketika dulu saya diajarkan penulisan karya ilmiah, ada satu hukum yang selalu saya ingat sampai sekarang. Aturan tersebut berbunyi, “Hindarkan penggunaan verba me(N)- dan konfiks yang mengandung afiks itu dalam penulisan teks karya ilmiah.” Lho, memangnya kenapa? Dan pertanyaan keheranan dan tidak mengerti ini dijawab oleh dosen, “Untuk menghindarkan kesan subjektif.”

Sampai di situ, saya benar-benar tidak mengerti, di mana subjektifitasnya. Sebenarnya saya siap untuk melanjutkan pertanyaan balasan, tapi ketika melihat teman lain mengacungkan tangan untuk bertanya dan sang dosen pun mengalihkan perhatiannya ke teman itu, saya mengurungkan niat. Tapi di dalam hati dan pikiran, kata tanya mengapa, mengapa, dan mengapa terus berulang. Sampai besoknya, ketika akhirnya pertanyaan itu terlupa oleh memori saya yang sudah jelek dari sananya ini.

Namun kemudian, setelah belajar ilmu yang namanya Kajian Wacana, Analisis Pragmatik, dan Analisis Wacana Kritis, saya jadi bisa menyimpulkan sendiri jawaban pertanyaan itu. Ya, meskipun ini hasil hipotesis saya sendiri, tapi saya percaya bahwa ini bisa dipertahankan (wuih, pede banget sih, ha ha).

Nah, begini penjelasannya. Prefiks me(N)-, jika dilihat dari ciri keaktifannya berfungsi “mengaktifkan” suatu verba. Oleh karena itu, kalimat yang gatra/posisi predikatnya diisi oleh verba berprefiks me(N)- disebut kalimat aktif. Prefiks di- berfungsi memasifkan verba sehingga kalimat yang memiliki predikat yang diisi oleh verba berprefiks me(N)- disebut kalimat pasif. Nah, lantas, apa hubungannya dengan objektif-subjektif?

Oke, dalam kalimat aktif, pelaku ditempatkan di depan verba sedangkan objek yang dikenai perbuatan oleh pelaku diletakkan di belakang verba; sehingga polanya menjadi |pelaku| + verba + |objek| dengan konstruksi makna <pelaku> melakukan <verba> terhadap <penderita>. Kalau konstruksi itu dikategorisasi berdasarkan tata bahasa tradisional, akan terbentuk S + P + (O). Nah, ingat tidak, bahwa dalam susunan konstruksi sintaktis-semantis kalimat bahasa Indonesia, unsur yang diletakkan di depan adalah unsur yang ditonjolkan/difokuskan/diperhatikan/dijadikan titik sudut pandang. Lantas, dalam kalimat aktif, unsur apa yang diletakkan paling depan? Pelaku, dan menempati posisi apa? Subjek. Nah, karena subjek yang dijadikan fokus (dan menjadi unsur wajib sementara objek yang menjadi takwajib),  kalimat aktif dianggap subjektif.

Sekarang, mari struktur tilik kalimat pasif. Pada kalimat pasif bahasa Indonesia, umumnya posisi pelaku dan penderita ditukar. Pelaku yang pada kalimat aktif berada di depan verba ditempatkan di belakang verba dalam kalimat pasif. Sebaliknya, penderita yang dalam kalimat aktif berada di belakang, dipindahkan ke depan dalam kalimat aktif. Dengan demikian, konstruksi yang terbentuk adalah |penderita| + verba + |pelaku|. Konstruksi gatra yang tersusun adalah O + S + (P). Unsur yang ditonjolkan/dijadikan fokus adalah objek dan sementara subjek menjadi unsur takwajib. Dengan demikian, kalimat pasif dianggap menunjukkan objektifitas.

Sebagai bahan perbandingan, mari amati beberapa contoh konversi kalimat aktif-pasif sederhana berikut ini.

Aktif:
(1a) Hilman menggunting kertas.
(1b) Hilman menggunting.

Pasif:
(1c) Kertas digunting Hilman
(1d) Kertas digunting.

Aktif
(2a) Nanan membongkar mesin cuci.
(2b) Nanan membongkar* (tidak berterima karena kalimat ini berverba transitif wajib)

Pasif
(2c) Mesin cuci dibongkar Nanan.
(2d) Mesin cuci dibongkar. (Akan tetapi, pada bentuk pasifnya kalimat ini berterima karena tidak ada transitivitas dalam kalimat pasif)

Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat dan tidak keliru. Apabila ada kesalahan mohon dikoreksi; apabila ada kekurangan mohon ditambahi.

Salam linguis ~!


Aksi

Information

One response

28 08 2010
jinggaprasetya

yaah akhirnya tau juga, jadi yang did epan itu memang biasanya yang difokuskan mungkin akrena yang diutamakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: