Pergeseran Kata lucu dalam Bahasa Indonesia Nonformal

12 12 2010

(1)    “Lucu-lucu banget sih …”

(2)    “Bonekanya lucu ya?”

(3)    “Lucu ih, beli di mana?”

 

Pernahkah Anda mendengar tuturan-tuturan semacam di atas? Kalimat-kalimat tuturan itu saya ambil dari beberapa obrolan para remaja yang tertangkap telinga saya ketika berjalan-jalan di mal, belanja di toko buku, berinternet di warnet, bahkan di jalan-jalan. Pokoknya, sering saya temukan kalimat semacam itu digunakan oleh para remaja yang sering pula dikategorikan sebagai ABG alias Anak Belakang Gunung .. eh salah, Anak Baru Gede. Ada yang menarik dari tuturan tersebut. Penggunaan kata lucu rupanya memiliki makna lain dalam bahasa ragam nonformal belakangan ini. Seperti yang dapat diamati pada tiga contoh kalimat tersebut, kata lucu tentunya bermakna lain dari pada makna aslinya yang terdapat di KBBI, yaitu ‘menggelikan hati; menimbulkan tertawa; jenaka’.

Kalimat (1) saya tangkap pada suatu hari di lapak makan (food court) mal terkenal di (Kota Pendidikan) Jatinangor. Beberapa orang mahasiswi (?) sedang membuka-buka katalog tas yang ditawarkan oleh teman mereka (yang juga ada dalam kelompok tersebut). Kalimat tersebut adalah komentar atas desain-desain tas yang tersaji di katalog tersebut. Betulkah penggunaan kata lucu dalam kalimat itu?

Apakah tas bisa melucu? Apakah tas di dalam katalog itu melakukan tindakan yang membuat tertawa? Melawak, misalnya? Apabila ya, bolehlah digunakan kata lucusebagai predikat dalam kalimat tersebut.

Kalimat (2) saya temukan juga di mal. Akan tetapi, kali ini di sebuah mal terkenal di Kota Bandung. Seorang siswi SMP dan teman-temannya, kali ini, sedang melihat-lihat berbagai barang di toko khusus pernak-pernik remaja perempuan. Ia bersama teman-temannya sedang membicarakan boneka beruang berukuran kecil.

Dalam kalimat tersebut, si penutur jelas menunjukkan bahwa boneka yang ditunjuknya itu lucu. Akan tetapi, jika diingat lagi makna lucu, makna kalimat ini akan aneh. Adakah boneka bisa melawak? Ataukah boneka tersebut dengan melakukan suatu adegan lucu yang membuat tertawa? Saya pikir boneka di zaman posmodern ini belum secanggih itu sehingga bisa bertingkah sendiri di depan orang yang melihatnya —  apalagi melawak. Jadi, tepatkah kata lucu dalam kalimat itu?

Kalimat (3) saya temukan di sebuah sekolah menengah atas di Kota Bandung — tempat saya mengajar ekskul English Club. Situasi kalimat itu adalah di koridor kelas. Tiga orang siswi sedang memperbincangkan sebuah bros/pin yang dimiliki temannya. Kalimat tersebut adalah komentar terhadap si bros.

Pertanyaannya: Apakah bros itu memiliki suatu kelucuan? Membuat tertawakah? Atau terlihat membuat tertawakah? Kalau sebuah pin bergambar ikan kecil berwarna biru muda dengan tiga gelembung kecil di sampingnya menurut anda bisa membuat tertawa, silakan anggap kalimat itu benar (secara logika makna).

Ada apa dengan kata lucu ini? Mengapa dia digunakan sebagai predikat bagi hal-hal yang tidak atau belum tentu membuat tertawa, padahal makna aslinya adalahmenimbulkan tertawa atau jenaka.

Menurut hemat saya, kalimat-kalimat di atas menunjukkan suatu perasaan gemassi penutur terhadap objek yang dimaksud. Misalnya, kalimat (1) melambangkan kegemasan terhadap desain-desain tas, kalimat (2) melambangkan kegemasan terhadap boneka yang dipajang, dan kalimat (3) melambangkan kegemasan terhadap pin/bros yang diperbincangkan.

Sebagai perbandingan lema, di dalam bahasa Inggris, mungkin makna semacam itu dilambangkan oleh kata cute. Di dalam bahasa Jepang, ada pula kata かわいい kawaii. Nah, di dalam bahasa Indonesia, perasaan kegemasan itu diungkapkan dengan kata apa? Kata imut-imut.

Di KBBI dijelaskan bahwa makna imut-imut adalah ‘manis, mungil, dan menggemaskan’. Makna ini mirip dengan makna kata cute dalam kamus terjemahan Inggris – Indonesia. Penerjemahan di Google Translate — mesin penerjemah yang paling diandalkan mahasiswa yang sering menyalin-tempel artikel Wikipedia ini — pun demikian.

Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik simpulan bahwa kata lucu menyerobot makna kata imut-imut. Masalah penyerobotan ini, saya tidak menyalahkan penutur karena segala macam perubahan bahasa itu seringkali terjadi begitu saja tanpa ada yang menyadari awalnya. Nah, dalam kasus ini, kata imut-imutrupanya tersaingin penggunaannya dengan kata lucu. Apa penyebabnya? Saya sendiri belum mendapat jawaban lengkap mengenai hal itu.

Salah satu teori (sok tahu) saya adalah karena kata imut-imut yang deretan fonnya terlalu panjang dibanding lucu. Akan tetapi, jelas bahwa penyerobotan makna ini kurang tepat karena mengakibatkan dua kata bermakna persis sama. Dengan kata lain, pemborosan lema.

Sebenarnya, tulisan ini bukan bermaksud ingin melarang-larang pergeseran makna suatu bahasa, bukan pula saya (selalu) ingin mengkritik penggunaan bahasa nonformal, apalagi melarang penggunaan bahasa nonformal. Bahasa nonformal itu wajar karena merupakan suatu kreasi bahasa oleh penutur pula. Bahasa standar yang dianggap monoton, tidak berwarna/berkesan — karena memang mempertahankan kenetralan –, dan kurang fleksibel dimodifikasi sedemikian rupa dengan pelanggaran beberapa kaidah bahasa yang kurang vital sehingga lebih berwarna, bernuansa, dan fleksibel — yang oleh peristilahan para remaja, dinobatkan sebagai bahasa gaul.

Silakan pergunakan istilah-istilah aneh dan macam-macam dalam berbahasa. Bagi saya itu bagus dan akan menambah menarik bahasa Indonesia. Akan tetapi, alangkah gunakan istilah yang sudah ada dengan baik dan sesuai logika maknanya. Misalnya perihal kata lucu ini. Bahasa kita sudah punya kata imutuntuk menunjukkan rasa gemas kita terhadap suatu benda. Untuk apa menggeser lagi kata lucu hanya untuk melambangkan makna yang sama dengan imut? Boros ‘kan?

Akan tetapi, pergeseran yang sudah kepalang luas dipraktikkan ini tentunya akan sulit untuk diubah. Dengan demikian, silakan gunakan dengan catatan: ubah makna lema lucu di dalam kamus apabila kata lucu benar sudah disepakati (atau dikonvensi) pergeseran maknanya oleh setiap penutur.

 

Salam


Aksi

Information

One response

18 06 2012
Anonim

sekalian pake comel, tahun 90an imut-imut blm ada di lema kbbi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: