Teve dan tivi

30 09 2010

Hari ini benar-benar luar binasa. Ha ha ha. Empat kelas, masing-masing 2 1/2 jam. Tanpa rehat selain rehat salat dan makan chocolatos. Parah, makan siang pun harus dirapel ke makan magrib (karena makan malam harus pindah ke jam 23). Dari jam 8 pagi sampai 18 petang ini rasanya memang hanya beberapa jam, tapi gempor-nya itu ibarat kemping 4 hari 4 malam.

Hari ini adalah pertemuan pertama kelas-kelas yang dimasuki. Oleh karena itu, materi yang dibawakan pun hanya sekadar cerita sejarah ejaan bahasa Indonesia dan sedikit materi tentang kapitalisasi dan penggunaan huruf miring. Tapi sebelum itu, saya sedikit mencoba “menggoda” mereka dengan pertanyaan: Kenapa sampai kuliah pun masih ada yang namanya pelajaran bahasa Indonesia itu? Setelah itu, saya beri contoh jawaban sederhana dengan mengajak mereka mengeja kata berikut.

  • TVRI
  • ANTV
  • RCTI
  • TRANS TV
  • GLOBAL TV
  • METRO TV

Lantas, benarlah apa yang diduga. Seperti kebanyakan orang yang memang sudah disesatkan media dan lingkungan mengenai pengejaan TV, kebanyakan dari mereka tidak konsisten dalam penyebutan tersebut. Ketika mengeja TVRI dan ANTV mereka menyebut te dan ve tetapi giliran mereka menyebut TRANS TV, GLOBAL TV, dan METRO TV, mereka menyebut itu semua dengan ti dan vi.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang mungkin telah menjadi korban media televisi itu sendiri ataupun korban lingkungan yang juga salah mengucapkan. Saya yakin, ketika diajarkan membaca, t dan v dibaca te dan ve. Namun demikian, ingatan itu sepertinya telah terhapus oleh zaman atau memang yang mereka ingat adalah pengucapan yang salah itu.

Oke, sekarang janganlah salah-menyalahkan. Yang penting adalah selanjutnya apa yang perlu dilakukan? Pertama, pembiasaan. Kedua, penerapan. Setelah terbiasa menerapkan, apa yang tadinya dianggap tidak lazim itu dengan sendirinya akan dianggap lazim jadi janganlah ketidaklaziman sesuatu yang benar itu dijadikan alasan penghindaran penggunaan ejaan yang tepatnya.

Iklan




Cencoroll, The Film

4 08 2010

Cencoroll, sebuah anime bertema sci-fi yang ditulis, didesain, disutradarai, dan dianimasi oleh satu orang, si pengarang manganya sendiri, Atsuya Uki. Film yang aslinya akan dijuduli Untitle ini diangkat dari manga karya Atsuya Uki sendiri, Amon Game yang memenangkan Grand Prix Award Kodansha Afternoon Shiki pada 2005.

Ketika Anime Innovation Tokyo memulai inisiatif untuk mensponsori anime-anime yang diproduksi oleh animator independen dan studio-studio kecil, mereka memilih Cencoroll untuk proyek sponsor mereka. Pada 2007, Uki membuat film pendek Cencoroll dan mendistribusikannya melalui internet. Setelah melihat berbagai komentar dan kritik yang positif, Uki akhirnya memutuskan untuk menulis, mendesain, menyutradarai, dan menganimasi film Cencoroll yang berdurasi 30 menit.

Sudah berbulan-bulan anime ini menduduki tangga pertaa wishlist chart anime saya. Sayangnya, belum ketemu juga ini film. Udah nyari-nyari ke mana-mana tapi belum nemu. Dari Disctarra, Pasar Kota Kembang, sampai si Magrib di Jatinangor sudah dikunjungi, tapi masih belum tampak juga sampul film ini dipajang. Ohh, masa sih harus unduh lagi dari Internet?

Alasan pengen nonton ini ada tiga. Pertama, fakta bahwa anime ini dikerjakan secara independen, jadi mungkin bisa diistilahkan sebagai indie anime. Anime ini ditulis, didesain, disutradarai, dan dianimasi oleh Atsuya Uki sendiri, dibantu beberapa orang asistennya tentu. Kedua, dua lagu yang dipakai oleh film ini rupanya sudah merasuki hati saya, dan musisinya adalah Ryo dari Supercell. Kedua lagu itu adalah Love and Roll dan Theme of Cencoroll. Ketiga, Cencoroll punya gaya desain karakter yang khas, tidak standar desain karakter anime Jepang pada umumnya.

Nah, ada yang mau ikut nonton?





Skywriting: Seni, Penerbangan, dan Asap

2 08 2010

Pernahkah Anda melihat beberapa baris pesawat lewat dan menyisakan bekas asap di langit? Pemandangan yang sudah tidak aneh, mungkin. Akan tetapi, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang berputar-putar di atas langit sambil mengeluarkan asap, dan setelah pergi, terbentuklah sebuah tulisan di langit seperti pada gambar di samping?

Pemandangan yang mungkin belum awam dilihat di Indonesia. Akan tetapi, pemandangan seperti itu hampir tidak aneh di negara-negara luar yang mengenal apa yang disebut dengan skywriting.

Jika diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris, skywriting bisa diartikan ‘menulisi langit’. Seperti namanya, skywriting memang “menulisi” langit. Akan tetapi, bukan menulis dengan alat tulis biasa yang dapat ditemukan di toko alat tulis atau kios fotokopi terdekat. Alat tulis yang digunakan dalam skywriting adalah pesawat terbang! Ya, jelas saja, bagaimana coba caranya menjangkau kanvas biru indah yang selalu menaungi kita ketika siang dan berubah hitam kelam ketika malam itu tanpa suatu alat transportasi yang bisa mengudara seperti pesawat terbang.

Disebut seni dan disebut aktrasi, skywriting digunakan untuk berbagai macam hal. Mulai dari sebagai bagian atraksi pesawat terbang dengan kata-kata pesan yang tidak jelas, penyampaian pesan pribadi (seperti ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat pernikahan, atau pengajuan lamaran pernikahan), pengumuman, bahkan untuk beriklan.

Berdasarkan surat Albert T Raid yang dialamatkan kepada koran The New York Times, disebutkan bahwa skywriting pertama kali disempurnakan tekniknya pada 1918 di Inggris Raya dan mulai diterapkan oleh orang-orang di Amerika pada tahun berikutnya, 1919. Pertama kalinya skywriting digunakan untuk pengiklanan atau tujuan advertensi adalah pada tahun 1922.

Skywriting menggunakan pesawat terbang kecil agar mampu bermanuver lincah dan akurat di ketinggian. Pesawat yang umumnya bertipe turboprop (bermesin baling-baling) ini dipasangi sebuah alat yang disebut smoke generator. Alat ini berupa wadah (container) bertekanan tinggi yang menampung minyak/oli berviskositas rendah. Oli yang dikompres ini diinjeksi ke dalam pipa pembuangan asap (knalpot) pesawat sehingga menghasilkan gumpalan asap tebal. Sayangnya, hasil skywriting tidak pernah permanen. Dalam beberapa menit, tulisan yang dibuat bisa hilang atau mengalami blur karena tiupan angin yang kencang di ketinggian. Akan tetapi, pada masa-masa selanjutnya, ditemukanlah teknik menulis “dot matrix” yang hasilnya dapat bertahan lebih lama di langit. Selan itu, pada atraksi skywriting modern, para pilot dibantu bimbingan navigasi dari satelit sehingga tulisan yang dibuat dapat lebih akurat dan jelas.





Ciri-ciri Psikis Manusia Indonesia Menurut Muchtar Lubis (Episode 2 – Ciri-ciri Psikis)

10 04 2010

(Episode 2 – Ciri-ciri Psikis)

Sebelum berlanjut ke episode tiga (maaf, tulisan ini akan bersambung menjadi 13 episode, seperti miniseri sinetron), saya akan memaparkan sekilas apa saja sifat-sifat manusia Indonesia yang akan saya bahas dan komentari di tulisan-tulisan selanjutnya. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut.

(1)        Hipokrit

(2)        Segan dan enggan bertanggung jawab

(3)        Berjiwa feodal

(4)        Percaya pada takhyul

(5)        Artistik

(6)        Watak yang lemah

(7)        Tidak hemat; cenderung boros

(8)        Tidak suka bekerja keras kecuali terpaksa

(9)        Cepat cemburu

(10)    Suka meniru

(11)    Malas

Meskipun ciri-ciri di atas didomniasi oleh ciri-ciri yang terkesan negatif, manusia Indonesia rupanya punya juga sifat-sifat positif seperti:

(a)    Suka hidup harmonis dengan orang lain

(b)   Kasih sayang orang tua kepada anak-anak dan sebaliknya

(c)    Berhati lembut dan suka hidup damai

(d)   Memiliki rasa humor yang tinggi

(e)    Cepat dalam belajar, mudah dilatih bermacam-macam keterampilan

Meskipun manusia Indonesia memiliki sifat-sifat positif, dari daftar di atas tampak bahwa orang Indonesia lebih banyak memiliki yang negatif daripada yang positif. Satu poin introspeksi untuk kita sebagai orang Indonesia!

Pada episode 1, sedikit telah saya ceritakan tentang pandangan bangsa asing, dalam hal tersebut adalah Belanda yang pernah datang dan berkoloni ke negeri ini. Mereka memandang bahwa orang Indonesia itu khianat, tidak mau memegang teguh perjanjian, suka membunuh, suka berperang, tidak jujur, seperti binatang, dan kejam. Penilaian tersebut memang ditarik dari keadaan masyarakat Nusantara pada saat itu yang masih tradisional dan relatif primitif. Saya katakan “primitif” karena ini jika dilihat dari sudut pandang bangsa Barat yang pada saat itu selalu menganggap bahwa kebudayaan dan teknologi mereka lebih maju daripada bangsa lain. Dengan demikian, bukankah penilaian tersebut sudah tidak berlaku lagi bagi masyarakat Indonesia zaman sekarang yang notabene telah mengenal modernisasi dan mengikuti teknologi? Oh, belum tentu.

Coba kita lihat penilaian pertama dan kedua lalu renungkan. Belanda di masa lampau menuduh bahwa kita itu bangsa yang khianat dan tidak memegang teguh perjanjian. Betulkah? Penilaian ini mungkin ditarik dari pengalaman-pengalaman bangsa Belanda yang sering membuat perjanjian dengan pihak-pihak kerajaan di Nusantara namun sering dilanggar oleh kerajaan itu sendiri. Memang, di buku sejarah kita selalu mengenal bahwa Belanda adalah pihak yang sering mengkhianati perjanjian. Akan tetapi, jika kita melihat masalah tersebut dari pihak Belanda, tentu pemikiran bahwa Indonesialah yang berkhianat tidak salah; karena Belanda – baik benar ataupun salah – tentu tidak ingin dipersalahkan. Meskipun demikian, ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang Indonesia itu suka berkhianat.

Contoh sederhananya, ambil dari cuplikan kenakalan-kenakalan kita atau orang lain di kehidupan sehari-hari. Merebut pacar orang, merebut istri orang, membohongi suami/istri, berdusta kepada orang tua, melanggar sumpah dokter, melanggar sumpah pengacara, melanggar sumpah hakim, polisi yang menjadi mafia hukum, mengorupsi anggaran dari proposal suatu acara, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Kalau hal-hal tersebut bukan contoh-contoh bentuk pengkhianatan, lantas apa?

Penilaian kedua, orang Indonesia itu suka membunuh, suka berperang, seperti binatang, dan kejam. Pada zaman kerajaan, ketika Belanda baru mendarat di Indonesia, Nusantara ini terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan baik kecil maupun besar. Entah karena perebutan kekuasaan, konflik keluarga, atau yang lain, bahkan sebelum Belanda akhirnya harus berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan tersebut, kerajaan-kerajaan itu sudah saling bertikai dan berperang. Kebetulan, Belanda tergolong bangsa yang cerdik dalam berperang. Mereka memiliki strategi sendiri. Berhubung kerajaan-kerajaan ini sudah dalam keadaan saling terpecah, Belanda merasa menggunakan metode divide et impera (sebuah istilah dari buku pelajaran SD yang mungkin sudah tidak diketahui oleh anak SD zaman sekarang). “Biarkan saja mereka saling memakan, daripada kita yang repot berperang.” Mungkin, kurang lebih begitu kalimat yang ada di kepala para ahli strategi kerajaan Belanda pada saat itu melihat keadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang terpecah-pecah.

Bentuk penilaian kedua ini rupanya tidak hilang sama sekali sampai tiga ratus tahun lebih setelah Belanda pertama kali berlabuh itu. Perang antarsuku, konflik antaragama, perkelahian antarkampung, tawuran antarpelajar, kekerasan dalam rumah tangga, keributan antargolongan, demonstrasi yang berujung pada bentrok, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah contoh yang menunjukkan bahwa orang Indonesia cenderung menyelesaikan masalah dengan otot dan parang daripada otak dan lisan. Bahkan, penyelesaian yang dilakukan melalui otak dan lisan seringkali berujung perang tanding otot dan parang. Nah?

Penilaian ketiga, orang Indonesia itu tidak jujur. Betulkah? Coba lihat praktik penggunaan minyak goreng bekas oleh beberapa penjual gorengan, penipuan timbangan, korupsi anggaran proyek,

Selain penilaian orang-orang Belanda zaman dahulu itu, ada pula dokumentasi penilaian dari bangsa Cina yang pernah tinggal di Nusantara. Seorang musafir bernama Ma Huan, pernah singgah di Jawa pada 1416 M. Kunjungannya itu dicatat dalam sebuah jurnal pribadi. Dalam catatan tersebut, ia menyebutkan bahwa orang pribumi Nusantara itu sangat jorok, rambutnya tidak disisir, tidak beralas kaki, sangat percaya pada hal-hal klenik, dan makanannya pun higienis karena hanya sekedar dipanggang sebentar di atas api (Waridah dkk, 2003: 105).

Bisa Anda bayangkan seperti apa kehidupan orang Nusantara zaman itu? Selama ini, gambaran kita tentang kehidupan masa lalu adalah kehidupan yang sudah tertata baik seperti di dalam kraton-kraton Jawa. Ya, itu kehidupan di dalam kraton. Di luar kraton? Apakah Anda menganggap bahwa kehidupan orang nonkraton pada saat itu seperti kehidupan di pedesaan terpencil sekarang? Penarikan simpulan seperti itu tidak akurat karena rentang waktunya yang sangat jauh. Soalnya, bahkan orang-orang di desa terpencil pun bisa berkembang, apalagi dalam jangka waktu 600 tahun sejak datangnya Ma Huan. Bayangan kita tentang kehidupan di masa lalu sudah dikaburkan dengan cerita-cerita dongeng/folklor yang cenderung istanasentris (berorientasi pada kehidupan istana) dan utopis; padahal belum tentu apa yang diceritakan dongeng itu bisa sama dengan apa yang terjadi di masa nun jauh lampau. Dongeng adalah dongeng, sulit untuk dianggap sebagai dokumentasi sejarah karena bersifat fiktif; beda ceritanya dengan riwayat.





Ciri-ciri Psikis Manusia Indonesia Menurut Muchtar Lubis (Episode 1 – Pendahuluan)

8 04 2010

(Episode 1 – Pendahuluan)

Saya pernah mendengar pemikiran masyarakat tentang beberapa sifat atau karakter umum suatu suku bangsa di Indonesia. Sifat atau karakter umum di sini maksudnya sifat atua karakter yang secara umum dimiliki oleh orang yang memiliki identitas kesukubangsaan tertentu. Misalnya, orang Batak yang cenderung lekas marah (temperamen tinggi), kasar, dan ulet, orang Jawa yang cenderung; orang Sunda punya istilah kurung batokeun yang bermakna sulit keluar daerah sendiri atau enggan merantau, dan sebagainya. Pertanyaannya, betulkah pendapat-pendapat tersebut?

Berbicara tentang sifat atau karakter suku bangsa, berarti kita berbicara tentang ciri-ciri psikis suatu suku bangsa tersebut. Dengan demikian, pertanyaan betulkah bahwa orang-orang Batak itu bersifat lekas marah dan betulkah orang Sunda cenderung enggan merantau dan lebih senang tinggal dan hidup di daerahnya masing-masing bisa terjawab melalui analisis psikis dan mental terhadap orang dari masing-masing suku bangsa itu.

Mochtar Lubis, pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki pernah menyampaikan pidatonya tentang penilaian orang luar (asing) terhadap manusia Indonesia. Orang-orang Belanda pada zaman VOC menilai bahwa orang Indonesia itu secara umum bersifat khianat – karena tidak bisa memegang teguh perjanjian –, suka membunuh, suka berperang, tidak jujur, seperti binatang, dan kejam. Penilaian aseperti ini tidak mengherankan, karena sejak tiba di Nusantara, mereka selalu mendapat perlawanan dari orang-orang di Nusantara.

Setelah Belanda berperan menjadi penjajah, pandangannya mulai berubah. Dikatakan bahwa orang Indonesia kurangsanggup melakukan kerja otak yang tinggi dan setengah-setengah dalam beragama. Penjajah Belanda juga mengakui bahwa manusia Indonesia bersifat hormat, tenang, dapat dipercaya, lembut, dan ramah pada tamu. Ada juga yang menilai manusia Indonesia tidak suka memikirkan yang susah-susah, tidak punya pendirian, tidak punya kemauan, dan tidak bisa mengambil keputusan.

Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut menurut kita (sebagai yang dinilai), itulah pendapat orang mengenai kita. Apabila kita ingin tahu seperti apa orang melihat kita, pahamilah kalimat-kalimat yang dipaparkan Muchtar Lubis tersebut kemudian introspeksi diri; apakah benar kita seperti itu?

Memang benar, jika berbicara tentang karakter orang Indonesia, akan sangat subjektif pendapat-pendapat yang muncul. Hal ini karena manusia Indonesia itu sangat banyak dan tidak sama satu sama lain. Kalaupun tampak sama, itu sekilas. Jika ditilik lebih detail dan lebih cermat, pasti ada satu-dua-tiga atau lebih perbedaan antara manusia yang satu dengan yan lainnya. Penilaian tentang bagaimana karakter orang Indonesia itu memang sangat bergantung pada siapa, dalam posisi apa, dan kapan penilaian itu dilakukan. Lagi pula, kita sebagai objek yang dinilai selalu mengalami perubahan. Akan tetapi, kembali lagi, ada sifat umum yang dimiliki dari sekian banyak manusia itu.

Sebenarnya bagi saya, pembicaraan tentang psikis manusia Indonesia ini sudah membosankan. Pertama kali saya membuat tulisan tentang ini sekitar lima tahun lalu ketika SMA kelas 3. Selama menjadi mahasiswa, entah sudah berapa kali saya menulis tentang ini.Akan tetapi, saya ingin terus menulis tentang ini karena masih banyak orang yang tidak sadar akan dirinya sendiri sehingga belum sempat introspeksi diri. Selain itu, ada pula orang yang sudah sadar dengan “psikis kemanusiaindonesiaannya” namun tetap saja enggan mengintrospeksi diri. Saya berharap, dengan tulisan ini, makin banyak orang yang mengintrospeksi dirinya sebagai manusia Indonesia.





Blog dan Mikroblog

23 03 2010

Melihat tanggal terakhir saya posting blog di sini … saya pikir lama juga saya tidak membuka dan mencorat-coreti blog ini. Maaf, belakangan ini sedang menjajal penyedia blog di situs tetangga yang tampilannya lebih simpel dari WordPress. Akan tetapi, dalam hal kelengkapan rupanya WordPress masih lebih lengkap daripada situs tersebut. Tetapi, memang tidak heran sih, soalnya situs tetangga itu bukan dikelaskan sebagai penyedia blog tetapi microblogging.

Nah, apa bedanya antara blog dan mikroblog (saya serap langsung dari microblogging)?

Wikipedia menyatakan bahwa mikroblog adalah salah satu bentuk blog. Perbedaan antara mikroblog dengan blog biasa bisa ditebak dari namanya; mikro berarti kecil, oleh sebab itu, perbedaan paling signifikan antara mikroblog dengan blog adalah “ukuran”. Ukuran di sini berarti ukuran halaman, ukuran teks yang ditampung, dan ukuran kalimat yang minimalis. Ya, konsep mikroblog memang mengusung tema minimalis.

Konsepnya yang minimalis dan tidak banyak repot membuat mikroblog bersifat lebih praktis dan mudah digunakan ketimbang blog tradisional. Akan tetapi, konsep minimalis ini sering mengakibatkan fitur-fitur dan kelengkapan mikroblog tidak selengkap blog tradisional. Ada beberapa fitur dan kelengkapan yang mesti dibuang agar mikroblog dapat mempertahankan kepraktisan dan minimalitasnya.

Dari penjelasan-penjelasan panjang di atas, akhirnya dapat ditarik simpulan bahwa mikroblog dapat didefinisikan sebagai model blog yang memiliki konsep minimalis dan mudah untuk digunakan.

Mikroblog belakangan ini sedang mulai popular karena minimalitas dan kemudahan penggunaannya. Mikroblog yang sedang popular misalnya Tumblr, Twitter, Jaiku, Plurk, dan Seesmic. Di antara mikroblog-mikroblog tersebut, Tumblr dan Jaiku adalah contoh mikroblog yang masih mirip dengan blog tradisional. Twitter, Seesmic, dan Plurk adalah contoh mikroblog yang sudah cukup minimalis dan sederhana. Selain contoh-contoh itu, ada satu lagi contoh konsep mikroblog yang sangat dekat dengan mayoritas kita, yaitu Facebook. Update status dan dinding-dindingan di Facebook sebenarnya merupakan salah satu konsep mikroblog. Selain update status, di dinding Facebook kita juga bisa posting tautan video, catatan, dan sebagainya.

Tertarik dengan microblogging? Ayo, saya sudah mencoba dan ternyata lumayan asyik. Asal jangan lupa urus juga blog yang asli. Jangan seperti saya yang melupakan blog asli gara-gara keasyikan microblogging, he he he.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Microblogging

http://en.wikipedia.org/wiki/Blog





Sekarang saya paham!

28 01 2009

Hari ini, sejak 08.00 sampai 11.30 saya duduk di ruang B 201, mengikuti kuliah Sastra Bandingan yang menjadi bagian “episode kuliah kecelakaan”. Saat ini saya tidak berniat menceritakan mengapa saya katakan episode kecelakaan. Itu nanti, ada saatnya. Lumayan, duduk selama tiga jam setengah cukup membuat kaki kram dan pantat mati rasa. Untungnya, dosen kami bisa membuat kuliah maraton sekaligus sprint ini menjadi menarik untuk diikuti. Ya, pada dasarnya kuliah ini berdistribusi 30 persen materi, 70 persen cerita. Ha ha, maaf ya bu. Lagian, Ibu nggak bosan-bosannya cerita. Tapi tenang lah Bu, kami nggak bosan kok dengerin cerita Ibu.

Tadi, diceritakan bahwa, menurut ideologi dan filosofi Jawa, seorang laki-laki itu idealnya berbadan seperti arjuna. Kurus, ramping, tidak gemuk. Ini menunjukkan bahwa si laki-laki adalah seorang yang cerdas, senang berpikir. Contohnya, Arjuna dan Yudhistira. Mereka, di Mahabharata versi Indonesia (khususnya Jawa), diceritakan berbadan tegap, tidak gemuk (itulah sebabnya kenapa figur-figur wayang kulit tubuhnya tampak kurus kering). Mengapa mereka bisa kurus seperti itu? Jelas, karena mereka sering bertapa di suatu tempat untuk memikirkan sesuatu secara mendalam dan sungguh-sungguh. Mereka selalu ingin mencari jawaban atas suatu pertanyaan dengan cara berpikir. Saking lamanya berpikir, mereka memakan waktu bisa berhari-hari. Dan selama berhari-hari itu tentunya mereka tidak makan. Tahu sendiri, apa yang akan terjadi pada tubuh orang yang tidak makan selama beberapa hari. Lapisan lemaknya secara otomatis dibakar tubuh sebagai pengganti nutrisi dari makanan yang tidak ada selama masa tapa.

Sampai sekarang, hal tersebut juga terjadi. Orang-orang yang senang berpikir dan melakukan suatu pekerjaan secara sungguh-sungguh sering melupakan kebutuhannya sendiri, bahkan yang bersifat wajib dan rutin seperti makan, mandi, dsb. Mereka terlalu serius berpikir dan berpikir tentang sesuatu atau terlalu fokus mengerjakan proyek.

Nah, saya kemudian berpikir-pikir, apa saya juga seperti itu? He he, mungkin ya?

Menurut Anda yang kenal saya?