Memasukkan Player Lagu di Artikel WordPress

28 08 2010

Anda para pemakai WordPress, pernahkah ingin memasukkan file mp3 agar bisa diputar atau didengarkan melalui blog? Atau pernahkah anda ingin mem-posting suatu lagu yang Anda suka atau Anda rekomendasikan untuk didengar kepada orang lain? Untuk tujuan itu, tentunya Anda pernah mencoba melakukan pengunggahan media mp3? Dan apakah akhirnya Anda kecewa karena fasilitas pengunggahan media mp3 tidak didukung sebelum Anda mengupgrade blog Anda itu ke paket Pro yang berbayar? Hahaha, semua orang pakai yang memakai WordPress sering kesal dengan kekurangan ini, ya saya salah satunya. Masa sih, cuma untuk mengunggah mp3 yang ingin dibagi-dengarkan dengan orang lain kita harus upgrade dulu paket?

Akan tetapi, sekarang tidak perlu kesal dan bingung lagi. Anda tetap bisa kok memperdengarkan lagu pilihan Anda itu melalui blog WordPress kesayangan Anda itu. Tapi, ini butuh sedikit trik. Mudah kok, cuman asal mau repot aja sedikit, he he he … Oke, mari mulai kalau begitu.

Untuk memperdengarkan lagu dalam suatu artikel blog, dibutuhkan interface pemutar lagu tersebut. Interface ini nantinya yang menjadi kontrol kita untuk memutar dan menghentikan lagu serta untuk membesarkan dan mengecilkan suara. Nah, secara standarnya, interface ini akan muncul jika Anda mengunggah lagu ke WordPress. Tapi, tentu itu kasusnya kalau blog Anda adalah paket yang berbayar. Oleh karena blog standar yang gratisan tidak mengizinkan pengunggahan media lagu seperti mp3, tentunya Anda tidak bisa memunculkan kontrol interface ini dengan cara biasa. Oke, trik untuk memasukkan lagu ke dalam artikel adalah sebagai berikut.

(1) Tentukan lagu yang akan Anda masukkan ke dalam blog. Setelah dapat, unggah file tersebut ke situs file hosting yang mengizinkan anonymous access. Jika tidak ketemu, Anda bisa menitip pada situs webhosting. Pada contoh ini, saya menitipkan file ini pada akun webhosting saya di 110mb.com yang sudah basi (maksudnya udah nggak dipake lagi =p). Lumayan kapasitas dan bandwidthnya bisa dimanfaatkan lah, he he he .. Anda bisa menggunakan file hosting atau web hosting manapun, asal diizinkan melakukan hotlinking. Misalnya, Stashbox.org. Untuk di Stashbox.org, Anda perlu registrasi terlebih dahulu. Tapi tenang, gratis kok~!

Tampilan Stashbox.org

(2) Setelah selesai mengunggah, salin alamat file yang Anda unggah. Untuk contoh, saya pakai Stashbox.org. Di Stashbox.org, setiap selesai mengunggah akan ditampilkan identitas file dan alamat link-nya. Alamat inilah yang diperlukan! Salin alamat file dari boks URL di kolom HTML/Forum Code.

Salin alamat file dari kotak URL

(3) Oke, urusan titip-menitip file beres. Sekarang kembali ke WordPress. Buka Dashboard, kemudian buat tulisan baru (new post).

(4) Pada editor teks, pilih mode HTML. Kemudian, kembali ke teks editor, tikkan kode berikut ini (tanpa tanda kutip, tentunya!).

” <code> [http://stashbox.org/979885/Yoko%20Kanno%20%26%20Ilaria%20Graziano%20-%20I%20Do.mp3] </code> ”

(5) Kembali ke modus Visual dengan mengeklik Visual dari tab editor teks. Simpan konsep, lalu klik Terbitkan (publish). Oh ya, jangan lupa untuk memberi judul. Tapi kalau Anda hanya ingin membuat artikel latihan yang nantinya akan dihapus, Anda bisa membiarkannya tanpa judul.

(6) Oke, lihat hasilnya dengan mengeklik pada Lihat Tulisan yang muncul di atas teks editor. Apabila Anda melakukan semua tahapan dengan benar (terutama bagian penulisan kodenya) akan muncul sebuah player di dalam artikel postingan Anda. Jika Anda klik tombol play-nya, file lagu yang tadi sudah disisipkan kode URL-nya akan diambil oleh (buffering) dan dimainkan oleh si player tersebut. Nah, untuk melengkapi, bagaimana jika Anda memberikan teks lirik pula pada artikel lagu tersebut? Siapa tahu pembaca Anda tertarik dan ingin tahu liriknya sekalian?

Sebagai tambahan, saya melampirkan tautan. Tautan di bawah ini adalah artikel contoh penerapan kontrol player lagu. Lagu yang saya sisipkan di sini adalah I Do dari album Ghost In The Shell, Stand Alone Complex: Solid State Society yang dinyanyikan oleh Ilaria Graziano dan diaransemen oleh Yoko Kanno.

https://metalingua.wordpress.com/2010/08/28/ilaria-graziano-i-do/

Semoga bermanfaat~!

Iklan




Mengapa Harus Menghindarkan Verba me(N)- dalam Teks Karya Ilmiah?

28 08 2010

Ketika dulu saya diajarkan penulisan karya ilmiah, ada satu hukum yang selalu saya ingat sampai sekarang. Aturan tersebut berbunyi, “Hindarkan penggunaan verba me(N)- dan konfiks yang mengandung afiks itu dalam penulisan teks karya ilmiah.” Lho, memangnya kenapa? Dan pertanyaan keheranan dan tidak mengerti ini dijawab oleh dosen, “Untuk menghindarkan kesan subjektif.”

Sampai di situ, saya benar-benar tidak mengerti, di mana subjektifitasnya. Sebenarnya saya siap untuk melanjutkan pertanyaan balasan, tapi ketika melihat teman lain mengacungkan tangan untuk bertanya dan sang dosen pun mengalihkan perhatiannya ke teman itu, saya mengurungkan niat. Tapi di dalam hati dan pikiran, kata tanya mengapa, mengapa, dan mengapa terus berulang. Sampai besoknya, ketika akhirnya pertanyaan itu terlupa oleh memori saya yang sudah jelek dari sananya ini.

Namun kemudian, setelah belajar ilmu yang namanya Kajian Wacana, Analisis Pragmatik, dan Analisis Wacana Kritis, saya jadi bisa menyimpulkan sendiri jawaban pertanyaan itu. Ya, meskipun ini hasil hipotesis saya sendiri, tapi saya percaya bahwa ini bisa dipertahankan (wuih, pede banget sih, ha ha).

Nah, begini penjelasannya. Prefiks me(N)-, jika dilihat dari ciri keaktifannya berfungsi “mengaktifkan” suatu verba. Oleh karena itu, kalimat yang gatra/posisi predikatnya diisi oleh verba berprefiks me(N)- disebut kalimat aktif. Prefiks di- berfungsi memasifkan verba sehingga kalimat yang memiliki predikat yang diisi oleh verba berprefiks me(N)- disebut kalimat pasif. Nah, lantas, apa hubungannya dengan objektif-subjektif?

Oke, dalam kalimat aktif, pelaku ditempatkan di depan verba sedangkan objek yang dikenai perbuatan oleh pelaku diletakkan di belakang verba; sehingga polanya menjadi |pelaku| + verba + |objek| dengan konstruksi makna <pelaku> melakukan <verba> terhadap <penderita>. Kalau konstruksi itu dikategorisasi berdasarkan tata bahasa tradisional, akan terbentuk S + P + (O). Nah, ingat tidak, bahwa dalam susunan konstruksi sintaktis-semantis kalimat bahasa Indonesia, unsur yang diletakkan di depan adalah unsur yang ditonjolkan/difokuskan/diperhatikan/dijadikan titik sudut pandang. Lantas, dalam kalimat aktif, unsur apa yang diletakkan paling depan? Pelaku, dan menempati posisi apa? Subjek. Nah, karena subjek yang dijadikan fokus (dan menjadi unsur wajib sementara objek yang menjadi takwajib),  kalimat aktif dianggap subjektif.

Sekarang, mari struktur tilik kalimat pasif. Pada kalimat pasif bahasa Indonesia, umumnya posisi pelaku dan penderita ditukar. Pelaku yang pada kalimat aktif berada di depan verba ditempatkan di belakang verba dalam kalimat pasif. Sebaliknya, penderita yang dalam kalimat aktif berada di belakang, dipindahkan ke depan dalam kalimat aktif. Dengan demikian, konstruksi yang terbentuk adalah |penderita| + verba + |pelaku|. Konstruksi gatra yang tersusun adalah O + S + (P). Unsur yang ditonjolkan/dijadikan fokus adalah objek dan sementara subjek menjadi unsur takwajib. Dengan demikian, kalimat pasif dianggap menunjukkan objektifitas.

Sebagai bahan perbandingan, mari amati beberapa contoh konversi kalimat aktif-pasif sederhana berikut ini.

Aktif:
(1a) Hilman menggunting kertas.
(1b) Hilman menggunting.

Pasif:
(1c) Kertas digunting Hilman
(1d) Kertas digunting.

Aktif
(2a) Nanan membongkar mesin cuci.
(2b) Nanan membongkar* (tidak berterima karena kalimat ini berverba transitif wajib)

Pasif
(2c) Mesin cuci dibongkar Nanan.
(2d) Mesin cuci dibongkar. (Akan tetapi, pada bentuk pasifnya kalimat ini berterima karena tidak ada transitivitas dalam kalimat pasif)

Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat dan tidak keliru. Apabila ada kesalahan mohon dikoreksi; apabila ada kekurangan mohon ditambahi.

Salam linguis ~!





Cencoroll, The Film

4 08 2010

Cencoroll, sebuah anime bertema sci-fi yang ditulis, didesain, disutradarai, dan dianimasi oleh satu orang, si pengarang manganya sendiri, Atsuya Uki. Film yang aslinya akan dijuduli Untitle ini diangkat dari manga karya Atsuya Uki sendiri, Amon Game yang memenangkan Grand Prix Award Kodansha Afternoon Shiki pada 2005.

Ketika Anime Innovation Tokyo memulai inisiatif untuk mensponsori anime-anime yang diproduksi oleh animator independen dan studio-studio kecil, mereka memilih Cencoroll untuk proyek sponsor mereka. Pada 2007, Uki membuat film pendek Cencoroll dan mendistribusikannya melalui internet. Setelah melihat berbagai komentar dan kritik yang positif, Uki akhirnya memutuskan untuk menulis, mendesain, menyutradarai, dan menganimasi film Cencoroll yang berdurasi 30 menit.

Sudah berbulan-bulan anime ini menduduki tangga pertaa wishlist chart anime saya. Sayangnya, belum ketemu juga ini film. Udah nyari-nyari ke mana-mana tapi belum nemu. Dari Disctarra, Pasar Kota Kembang, sampai si Magrib di Jatinangor sudah dikunjungi, tapi masih belum tampak juga sampul film ini dipajang. Ohh, masa sih harus unduh lagi dari Internet?

Alasan pengen nonton ini ada tiga. Pertama, fakta bahwa anime ini dikerjakan secara independen, jadi mungkin bisa diistilahkan sebagai indie anime. Anime ini ditulis, didesain, disutradarai, dan dianimasi oleh Atsuya Uki sendiri, dibantu beberapa orang asistennya tentu. Kedua, dua lagu yang dipakai oleh film ini rupanya sudah merasuki hati saya, dan musisinya adalah Ryo dari Supercell. Kedua lagu itu adalah Love and Roll dan Theme of Cencoroll. Ketiga, Cencoroll punya gaya desain karakter yang khas, tidak standar desain karakter anime Jepang pada umumnya.

Nah, ada yang mau ikut nonton?





Skywriting: Seni, Penerbangan, dan Asap

2 08 2010

Pernahkah Anda melihat beberapa baris pesawat lewat dan menyisakan bekas asap di langit? Pemandangan yang sudah tidak aneh, mungkin. Akan tetapi, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang berputar-putar di atas langit sambil mengeluarkan asap, dan setelah pergi, terbentuklah sebuah tulisan di langit seperti pada gambar di samping?

Pemandangan yang mungkin belum awam dilihat di Indonesia. Akan tetapi, pemandangan seperti itu hampir tidak aneh di negara-negara luar yang mengenal apa yang disebut dengan skywriting.

Jika diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris, skywriting bisa diartikan ‘menulisi langit’. Seperti namanya, skywriting memang “menulisi” langit. Akan tetapi, bukan menulis dengan alat tulis biasa yang dapat ditemukan di toko alat tulis atau kios fotokopi terdekat. Alat tulis yang digunakan dalam skywriting adalah pesawat terbang! Ya, jelas saja, bagaimana coba caranya menjangkau kanvas biru indah yang selalu menaungi kita ketika siang dan berubah hitam kelam ketika malam itu tanpa suatu alat transportasi yang bisa mengudara seperti pesawat terbang.

Disebut seni dan disebut aktrasi, skywriting digunakan untuk berbagai macam hal. Mulai dari sebagai bagian atraksi pesawat terbang dengan kata-kata pesan yang tidak jelas, penyampaian pesan pribadi (seperti ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat pernikahan, atau pengajuan lamaran pernikahan), pengumuman, bahkan untuk beriklan.

Berdasarkan surat Albert T Raid yang dialamatkan kepada koran The New York Times, disebutkan bahwa skywriting pertama kali disempurnakan tekniknya pada 1918 di Inggris Raya dan mulai diterapkan oleh orang-orang di Amerika pada tahun berikutnya, 1919. Pertama kalinya skywriting digunakan untuk pengiklanan atau tujuan advertensi adalah pada tahun 1922.

Skywriting menggunakan pesawat terbang kecil agar mampu bermanuver lincah dan akurat di ketinggian. Pesawat yang umumnya bertipe turboprop (bermesin baling-baling) ini dipasangi sebuah alat yang disebut smoke generator. Alat ini berupa wadah (container) bertekanan tinggi yang menampung minyak/oli berviskositas rendah. Oli yang dikompres ini diinjeksi ke dalam pipa pembuangan asap (knalpot) pesawat sehingga menghasilkan gumpalan asap tebal. Sayangnya, hasil skywriting tidak pernah permanen. Dalam beberapa menit, tulisan yang dibuat bisa hilang atau mengalami blur karena tiupan angin yang kencang di ketinggian. Akan tetapi, pada masa-masa selanjutnya, ditemukanlah teknik menulis “dot matrix” yang hasilnya dapat bertahan lebih lama di langit. Selan itu, pada atraksi skywriting modern, para pilot dibantu bimbingan navigasi dari satelit sehingga tulisan yang dibuat dapat lebih akurat dan jelas.





Sedikit Cerita Tentang Vocaloid

1 08 2010

Ada yang pernah dengar istilah vocaloid nggak? Atau ada yang tahu siapa itu Hatsune Miku, Kagamine Rin, dan Kagamine Len?

Vocaloid adalah suatu teknologi synthesizer vokal yang diproduksi oleh Yamaha Corporation. Seperti halnya synthesizer instrumen musik yang digunakan untuk memproduksi suara alat musik, synthsizer vokal digunakan untuk memproduksi vokal manusia. Dengan kata lain, vocaloid adalah semacam piranti lunak alias software musik yang digunakan untuk memproduksi bagian vokal dalam suatu lagu.

Salah satu contoh sederhana teknologi vocaloid dapat ditemukan di komputer kok, yaitu pada . Coba buka fitur Speech dari Control Panel. Di sana ada pilihan Text to Speech. Fitur ini sebenarnya dibuat untuk membantu pengguna Windows yang memiliki cacat visual seperti para tuna netra yang kesulitan melihat atau orang-orang yang memiliki hipermetropi (rabun dekat) yang parah. Selain Microsoft Sam, Windows juga punya versi lainnya seperti Microsoft Mike dan Microsoft Mary, Lernout Hauspie Michael dan Michelle, serta Microsoft Lili untuk spesialisasi Windows versi Cina (Vista dan seterusnya). Mulai dari Windows Vista, diperkenalkanlah Microsoft Anna yang menggantikan Sam sebagai suara text-to-speech.

Akan tetapi, vocaloid yang saya obrolkan di sini bukan si Microsoft Sam yang suaranya kaku seperti robot itu. Yang ingin saya ekspos di sini adalah vocaloid bersuara indah yang bisa menyanyikan berbagai lagu dengan merdu.

Proyek vocaloid ini sebenarnya berkembang sudah sejak lama. Pada Januari 2004 ZeroG telah merilis produk vocaloid pertama mereka, Leon dan Lola, yang dispesialisasikan untuk musik aliran soul. Leon dan Lola pertama kali muncul di acara NAMM Show 15 Januari 2004. Juli 2004, ZeroG merilis lagi vocaloid-nya yang berjudul .. eh, bernama .. Miriam.

Pada 29 Juni 2007 muncullah engine vocaloid 2 yang dirilis dari PowerFX. Kemudian, bermunculanlah vocaloid-vocaloid lain seperti Hatsune Miku dari Crypton dan Prima dari ZeroG. Vocaloid generasi kedua inilah yang sampai saat ini masih sering dipakai sebagai vokalis oleh berbagai artis dan musisi.

Setiap vocaloid memiliki spesialisasi musik dan bahasa. Hatsune Miku, Kagamine Rin, dan Kagamine Len dispesialisasi untuk digunakan dalam lagu-lagu yang liriknya berbahasa Jepang. Sweet Ann dari PowerFX dan Sonika dari ZeroG dispesialisasi untuk lirik berbahasa Inggris. Dari vocaloid generasi pertama, Leon, Lola, dan Miriam dari ZeroG adalah vocaloid berbahasa Inggris sementara untuk yang berbahasa Jepang adalah Meiko dan Kato yang diproduksi oleh Crypton.

Berbagai perbaikan dan pemantapan terus dilaksanakan untuk menyempurnakan suara dari para vocaloid. Misalnya, untuk permasalahan kompatibilitas bahasa Crypton memperkenalkan vocaloid terbarunya, Megurine Luka yang bilingual; bisa digunakan untuk dua bahasa. Kemudian 30 April 2010, dirilislah Hatsune Miku Append yang memiliki 6 pilihan suara.

Penasaran seperti apa vokal Hatsune Miku? Supercell, salah satu band doujin music Jepang sering menggunakan Hatsune Miku sebagai vokalis lagu-lagunya. Misalnya, lagu yang berjudul MELT berikut ini.

Supercell (Ryo featuring Hatsune Miku) – MELT





Ciri-ciri Psikis Manusia Indonesia Menurut Muchtar Lubis (Episode 2 – Ciri-ciri Psikis)

10 04 2010

(Episode 2 – Ciri-ciri Psikis)

Sebelum berlanjut ke episode tiga (maaf, tulisan ini akan bersambung menjadi 13 episode, seperti miniseri sinetron), saya akan memaparkan sekilas apa saja sifat-sifat manusia Indonesia yang akan saya bahas dan komentari di tulisan-tulisan selanjutnya. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut.

(1)        Hipokrit

(2)        Segan dan enggan bertanggung jawab

(3)        Berjiwa feodal

(4)        Percaya pada takhyul

(5)        Artistik

(6)        Watak yang lemah

(7)        Tidak hemat; cenderung boros

(8)        Tidak suka bekerja keras kecuali terpaksa

(9)        Cepat cemburu

(10)    Suka meniru

(11)    Malas

Meskipun ciri-ciri di atas didomniasi oleh ciri-ciri yang terkesan negatif, manusia Indonesia rupanya punya juga sifat-sifat positif seperti:

(a)    Suka hidup harmonis dengan orang lain

(b)   Kasih sayang orang tua kepada anak-anak dan sebaliknya

(c)    Berhati lembut dan suka hidup damai

(d)   Memiliki rasa humor yang tinggi

(e)    Cepat dalam belajar, mudah dilatih bermacam-macam keterampilan

Meskipun manusia Indonesia memiliki sifat-sifat positif, dari daftar di atas tampak bahwa orang Indonesia lebih banyak memiliki yang negatif daripada yang positif. Satu poin introspeksi untuk kita sebagai orang Indonesia!

Pada episode 1, sedikit telah saya ceritakan tentang pandangan bangsa asing, dalam hal tersebut adalah Belanda yang pernah datang dan berkoloni ke negeri ini. Mereka memandang bahwa orang Indonesia itu khianat, tidak mau memegang teguh perjanjian, suka membunuh, suka berperang, tidak jujur, seperti binatang, dan kejam. Penilaian tersebut memang ditarik dari keadaan masyarakat Nusantara pada saat itu yang masih tradisional dan relatif primitif. Saya katakan “primitif” karena ini jika dilihat dari sudut pandang bangsa Barat yang pada saat itu selalu menganggap bahwa kebudayaan dan teknologi mereka lebih maju daripada bangsa lain. Dengan demikian, bukankah penilaian tersebut sudah tidak berlaku lagi bagi masyarakat Indonesia zaman sekarang yang notabene telah mengenal modernisasi dan mengikuti teknologi? Oh, belum tentu.

Coba kita lihat penilaian pertama dan kedua lalu renungkan. Belanda di masa lampau menuduh bahwa kita itu bangsa yang khianat dan tidak memegang teguh perjanjian. Betulkah? Penilaian ini mungkin ditarik dari pengalaman-pengalaman bangsa Belanda yang sering membuat perjanjian dengan pihak-pihak kerajaan di Nusantara namun sering dilanggar oleh kerajaan itu sendiri. Memang, di buku sejarah kita selalu mengenal bahwa Belanda adalah pihak yang sering mengkhianati perjanjian. Akan tetapi, jika kita melihat masalah tersebut dari pihak Belanda, tentu pemikiran bahwa Indonesialah yang berkhianat tidak salah; karena Belanda – baik benar ataupun salah – tentu tidak ingin dipersalahkan. Meskipun demikian, ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang Indonesia itu suka berkhianat.

Contoh sederhananya, ambil dari cuplikan kenakalan-kenakalan kita atau orang lain di kehidupan sehari-hari. Merebut pacar orang, merebut istri orang, membohongi suami/istri, berdusta kepada orang tua, melanggar sumpah dokter, melanggar sumpah pengacara, melanggar sumpah hakim, polisi yang menjadi mafia hukum, mengorupsi anggaran dari proposal suatu acara, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Kalau hal-hal tersebut bukan contoh-contoh bentuk pengkhianatan, lantas apa?

Penilaian kedua, orang Indonesia itu suka membunuh, suka berperang, seperti binatang, dan kejam. Pada zaman kerajaan, ketika Belanda baru mendarat di Indonesia, Nusantara ini terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan baik kecil maupun besar. Entah karena perebutan kekuasaan, konflik keluarga, atau yang lain, bahkan sebelum Belanda akhirnya harus berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan tersebut, kerajaan-kerajaan itu sudah saling bertikai dan berperang. Kebetulan, Belanda tergolong bangsa yang cerdik dalam berperang. Mereka memiliki strategi sendiri. Berhubung kerajaan-kerajaan ini sudah dalam keadaan saling terpecah, Belanda merasa menggunakan metode divide et impera (sebuah istilah dari buku pelajaran SD yang mungkin sudah tidak diketahui oleh anak SD zaman sekarang). “Biarkan saja mereka saling memakan, daripada kita yang repot berperang.” Mungkin, kurang lebih begitu kalimat yang ada di kepala para ahli strategi kerajaan Belanda pada saat itu melihat keadaan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang terpecah-pecah.

Bentuk penilaian kedua ini rupanya tidak hilang sama sekali sampai tiga ratus tahun lebih setelah Belanda pertama kali berlabuh itu. Perang antarsuku, konflik antaragama, perkelahian antarkampung, tawuran antarpelajar, kekerasan dalam rumah tangga, keributan antargolongan, demonstrasi yang berujung pada bentrok, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah contoh yang menunjukkan bahwa orang Indonesia cenderung menyelesaikan masalah dengan otot dan parang daripada otak dan lisan. Bahkan, penyelesaian yang dilakukan melalui otak dan lisan seringkali berujung perang tanding otot dan parang. Nah?

Penilaian ketiga, orang Indonesia itu tidak jujur. Betulkah? Coba lihat praktik penggunaan minyak goreng bekas oleh beberapa penjual gorengan, penipuan timbangan, korupsi anggaran proyek,

Selain penilaian orang-orang Belanda zaman dahulu itu, ada pula dokumentasi penilaian dari bangsa Cina yang pernah tinggal di Nusantara. Seorang musafir bernama Ma Huan, pernah singgah di Jawa pada 1416 M. Kunjungannya itu dicatat dalam sebuah jurnal pribadi. Dalam catatan tersebut, ia menyebutkan bahwa orang pribumi Nusantara itu sangat jorok, rambutnya tidak disisir, tidak beralas kaki, sangat percaya pada hal-hal klenik, dan makanannya pun higienis karena hanya sekedar dipanggang sebentar di atas api (Waridah dkk, 2003: 105).

Bisa Anda bayangkan seperti apa kehidupan orang Nusantara zaman itu? Selama ini, gambaran kita tentang kehidupan masa lalu adalah kehidupan yang sudah tertata baik seperti di dalam kraton-kraton Jawa. Ya, itu kehidupan di dalam kraton. Di luar kraton? Apakah Anda menganggap bahwa kehidupan orang nonkraton pada saat itu seperti kehidupan di pedesaan terpencil sekarang? Penarikan simpulan seperti itu tidak akurat karena rentang waktunya yang sangat jauh. Soalnya, bahkan orang-orang di desa terpencil pun bisa berkembang, apalagi dalam jangka waktu 600 tahun sejak datangnya Ma Huan. Bayangan kita tentang kehidupan di masa lalu sudah dikaburkan dengan cerita-cerita dongeng/folklor yang cenderung istanasentris (berorientasi pada kehidupan istana) dan utopis; padahal belum tentu apa yang diceritakan dongeng itu bisa sama dengan apa yang terjadi di masa nun jauh lampau. Dongeng adalah dongeng, sulit untuk dianggap sebagai dokumentasi sejarah karena bersifat fiktif; beda ceritanya dengan riwayat.





Ciri-ciri Psikis Manusia Indonesia Menurut Muchtar Lubis (Episode 1 – Pendahuluan)

8 04 2010

(Episode 1 – Pendahuluan)

Saya pernah mendengar pemikiran masyarakat tentang beberapa sifat atau karakter umum suatu suku bangsa di Indonesia. Sifat atau karakter umum di sini maksudnya sifat atua karakter yang secara umum dimiliki oleh orang yang memiliki identitas kesukubangsaan tertentu. Misalnya, orang Batak yang cenderung lekas marah (temperamen tinggi), kasar, dan ulet, orang Jawa yang cenderung; orang Sunda punya istilah kurung batokeun yang bermakna sulit keluar daerah sendiri atau enggan merantau, dan sebagainya. Pertanyaannya, betulkah pendapat-pendapat tersebut?

Berbicara tentang sifat atau karakter suku bangsa, berarti kita berbicara tentang ciri-ciri psikis suatu suku bangsa tersebut. Dengan demikian, pertanyaan betulkah bahwa orang-orang Batak itu bersifat lekas marah dan betulkah orang Sunda cenderung enggan merantau dan lebih senang tinggal dan hidup di daerahnya masing-masing bisa terjawab melalui analisis psikis dan mental terhadap orang dari masing-masing suku bangsa itu.

Mochtar Lubis, pada 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki pernah menyampaikan pidatonya tentang penilaian orang luar (asing) terhadap manusia Indonesia. Orang-orang Belanda pada zaman VOC menilai bahwa orang Indonesia itu secara umum bersifat khianat – karena tidak bisa memegang teguh perjanjian –, suka membunuh, suka berperang, tidak jujur, seperti binatang, dan kejam. Penilaian aseperti ini tidak mengherankan, karena sejak tiba di Nusantara, mereka selalu mendapat perlawanan dari orang-orang di Nusantara.

Setelah Belanda berperan menjadi penjajah, pandangannya mulai berubah. Dikatakan bahwa orang Indonesia kurangsanggup melakukan kerja otak yang tinggi dan setengah-setengah dalam beragama. Penjajah Belanda juga mengakui bahwa manusia Indonesia bersifat hormat, tenang, dapat dipercaya, lembut, dan ramah pada tamu. Ada juga yang menilai manusia Indonesia tidak suka memikirkan yang susah-susah, tidak punya pendirian, tidak punya kemauan, dan tidak bisa mengambil keputusan.

Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut menurut kita (sebagai yang dinilai), itulah pendapat orang mengenai kita. Apabila kita ingin tahu seperti apa orang melihat kita, pahamilah kalimat-kalimat yang dipaparkan Muchtar Lubis tersebut kemudian introspeksi diri; apakah benar kita seperti itu?

Memang benar, jika berbicara tentang karakter orang Indonesia, akan sangat subjektif pendapat-pendapat yang muncul. Hal ini karena manusia Indonesia itu sangat banyak dan tidak sama satu sama lain. Kalaupun tampak sama, itu sekilas. Jika ditilik lebih detail dan lebih cermat, pasti ada satu-dua-tiga atau lebih perbedaan antara manusia yang satu dengan yan lainnya. Penilaian tentang bagaimana karakter orang Indonesia itu memang sangat bergantung pada siapa, dalam posisi apa, dan kapan penilaian itu dilakukan. Lagi pula, kita sebagai objek yang dinilai selalu mengalami perubahan. Akan tetapi, kembali lagi, ada sifat umum yang dimiliki dari sekian banyak manusia itu.

Sebenarnya bagi saya, pembicaraan tentang psikis manusia Indonesia ini sudah membosankan. Pertama kali saya membuat tulisan tentang ini sekitar lima tahun lalu ketika SMA kelas 3. Selama menjadi mahasiswa, entah sudah berapa kali saya menulis tentang ini.Akan tetapi, saya ingin terus menulis tentang ini karena masih banyak orang yang tidak sadar akan dirinya sendiri sehingga belum sempat introspeksi diri. Selain itu, ada pula orang yang sudah sadar dengan “psikis kemanusiaindonesiaannya” namun tetap saja enggan mengintrospeksi diri. Saya berharap, dengan tulisan ini, makin banyak orang yang mengintrospeksi dirinya sebagai manusia Indonesia.