Pergeseran Kata lucu dalam Bahasa Indonesia Nonformal

12 12 2010

(1)    “Lucu-lucu banget sih …”

(2)    “Bonekanya lucu ya?”

(3)    “Lucu ih, beli di mana?”

 

Pernahkah Anda mendengar tuturan-tuturan semacam di atas? Kalimat-kalimat tuturan itu saya ambil dari beberapa obrolan para remaja yang tertangkap telinga saya ketika berjalan-jalan di mal, belanja di toko buku, berinternet di warnet, bahkan di jalan-jalan. Pokoknya, sering saya temukan kalimat semacam itu digunakan oleh para remaja yang sering pula dikategorikan sebagai ABG alias Anak Belakang Gunung .. eh salah, Anak Baru Gede. Ada yang menarik dari tuturan tersebut. Penggunaan kata lucu rupanya memiliki makna lain dalam bahasa ragam nonformal belakangan ini. Seperti yang dapat diamati pada tiga contoh kalimat tersebut, kata lucu tentunya bermakna lain dari pada makna aslinya yang terdapat di KBBI, yaitu ‘menggelikan hati; menimbulkan tertawa; jenaka’.

Kalimat (1) saya tangkap pada suatu hari di lapak makan (food court) mal terkenal di (Kota Pendidikan) Jatinangor. Beberapa orang mahasiswi (?) sedang membuka-buka katalog tas yang ditawarkan oleh teman mereka (yang juga ada dalam kelompok tersebut). Kalimat tersebut adalah komentar atas desain-desain tas yang tersaji di katalog tersebut. Betulkah penggunaan kata lucu dalam kalimat itu?

Apakah tas bisa melucu? Apakah tas di dalam katalog itu melakukan tindakan yang membuat tertawa? Melawak, misalnya? Apabila ya, bolehlah digunakan kata lucusebagai predikat dalam kalimat tersebut.

Kalimat (2) saya temukan juga di mal. Akan tetapi, kali ini di sebuah mal terkenal di Kota Bandung. Seorang siswi SMP dan teman-temannya, kali ini, sedang melihat-lihat berbagai barang di toko khusus pernak-pernik remaja perempuan. Ia bersama teman-temannya sedang membicarakan boneka beruang berukuran kecil.

Dalam kalimat tersebut, si penutur jelas menunjukkan bahwa boneka yang ditunjuknya itu lucu. Akan tetapi, jika diingat lagi makna lucu, makna kalimat ini akan aneh. Adakah boneka bisa melawak? Ataukah boneka tersebut dengan melakukan suatu adegan lucu yang membuat tertawa? Saya pikir boneka di zaman posmodern ini belum secanggih itu sehingga bisa bertingkah sendiri di depan orang yang melihatnya —  apalagi melawak. Jadi, tepatkah kata lucu dalam kalimat itu?

Kalimat (3) saya temukan di sebuah sekolah menengah atas di Kota Bandung — tempat saya mengajar ekskul English Club. Situasi kalimat itu adalah di koridor kelas. Tiga orang siswi sedang memperbincangkan sebuah bros/pin yang dimiliki temannya. Kalimat tersebut adalah komentar terhadap si bros.

Pertanyaannya: Apakah bros itu memiliki suatu kelucuan? Membuat tertawakah? Atau terlihat membuat tertawakah? Kalau sebuah pin bergambar ikan kecil berwarna biru muda dengan tiga gelembung kecil di sampingnya menurut anda bisa membuat tertawa, silakan anggap kalimat itu benar (secara logika makna).

Ada apa dengan kata lucu ini? Mengapa dia digunakan sebagai predikat bagi hal-hal yang tidak atau belum tentu membuat tertawa, padahal makna aslinya adalahmenimbulkan tertawa atau jenaka.

Menurut hemat saya, kalimat-kalimat di atas menunjukkan suatu perasaan gemassi penutur terhadap objek yang dimaksud. Misalnya, kalimat (1) melambangkan kegemasan terhadap desain-desain tas, kalimat (2) melambangkan kegemasan terhadap boneka yang dipajang, dan kalimat (3) melambangkan kegemasan terhadap pin/bros yang diperbincangkan.

Sebagai perbandingan lema, di dalam bahasa Inggris, mungkin makna semacam itu dilambangkan oleh kata cute. Di dalam bahasa Jepang, ada pula kata かわいい kawaii. Nah, di dalam bahasa Indonesia, perasaan kegemasan itu diungkapkan dengan kata apa? Kata imut-imut.

Di KBBI dijelaskan bahwa makna imut-imut adalah ‘manis, mungil, dan menggemaskan’. Makna ini mirip dengan makna kata cute dalam kamus terjemahan Inggris – Indonesia. Penerjemahan di Google Translate — mesin penerjemah yang paling diandalkan mahasiswa yang sering menyalin-tempel artikel Wikipedia ini — pun demikian.

Dari penjelasan tersebut, bisa ditarik simpulan bahwa kata lucu menyerobot makna kata imut-imut. Masalah penyerobotan ini, saya tidak menyalahkan penutur karena segala macam perubahan bahasa itu seringkali terjadi begitu saja tanpa ada yang menyadari awalnya. Nah, dalam kasus ini, kata imut-imutrupanya tersaingin penggunaannya dengan kata lucu. Apa penyebabnya? Saya sendiri belum mendapat jawaban lengkap mengenai hal itu.

Salah satu teori (sok tahu) saya adalah karena kata imut-imut yang deretan fonnya terlalu panjang dibanding lucu. Akan tetapi, jelas bahwa penyerobotan makna ini kurang tepat karena mengakibatkan dua kata bermakna persis sama. Dengan kata lain, pemborosan lema.

Sebenarnya, tulisan ini bukan bermaksud ingin melarang-larang pergeseran makna suatu bahasa, bukan pula saya (selalu) ingin mengkritik penggunaan bahasa nonformal, apalagi melarang penggunaan bahasa nonformal. Bahasa nonformal itu wajar karena merupakan suatu kreasi bahasa oleh penutur pula. Bahasa standar yang dianggap monoton, tidak berwarna/berkesan — karena memang mempertahankan kenetralan –, dan kurang fleksibel dimodifikasi sedemikian rupa dengan pelanggaran beberapa kaidah bahasa yang kurang vital sehingga lebih berwarna, bernuansa, dan fleksibel — yang oleh peristilahan para remaja, dinobatkan sebagai bahasa gaul.

Silakan pergunakan istilah-istilah aneh dan macam-macam dalam berbahasa. Bagi saya itu bagus dan akan menambah menarik bahasa Indonesia. Akan tetapi, alangkah gunakan istilah yang sudah ada dengan baik dan sesuai logika maknanya. Misalnya perihal kata lucu ini. Bahasa kita sudah punya kata imutuntuk menunjukkan rasa gemas kita terhadap suatu benda. Untuk apa menggeser lagi kata lucu hanya untuk melambangkan makna yang sama dengan imut? Boros ‘kan?

Akan tetapi, pergeseran yang sudah kepalang luas dipraktikkan ini tentunya akan sulit untuk diubah. Dengan demikian, silakan gunakan dengan catatan: ubah makna lema lucu di dalam kamus apabila kata lucu benar sudah disepakati (atau dikonvensi) pergeseran maknanya oleh setiap penutur.

 

Salam





Kata Ulang, dan Salah Kaprah pada Dirinya

11 10 2010

Apa Itu Reduplikasi?

Salah satu konsep morfologis yang unik dalam bahasa Indonesia adalah reduplikasi. Reduplikasi adalah istilah linguistik untuk proses morfologis yang berupa pengulangan kata sehingga menghasilkan bentuk berulang atau kata ulangReduplikasi dan Kata ulang adalah sebuah materi pelajaran bahasa Indonesia yang kadang menuai masalah di kalangan para siswa — pengalaman pribadi seseorang yang pernah mengajar bahasa Indonesia di sebuah bimbel.

Pada dasarnya, kata ulang itu terdiri dari dua “wujud” kata, yaitu wujud dasar atau kata dasar, dan wujud tambahan. Wujud dasar biasanya berupa kata dasar yang akan diulang sedangkan wujud tambahan adalah kata yang ditambahkan dalam konstruksi kata ulang dan biasanya merupakan hasil modifikasi bentuk dasar sehingga mirip dengan bentuk dasar. Contoh hubungan pasangan tersebut bisa dilihat dalam ilustrasi di bawah.

Sifat ini berlaku kecuali pada kata berulang suku kata awal atau dwipurwa.

Jika melihat bentuk akhirnya, kata ulang dibagi menjadi:

  1. kata berulang utuh,
  2. kata berulang berubah bunyi,
  3. kata berulang suku kata awal,
  4. kata-ulang berimbuhan, dan
  5. kata-ulang semu.

Kata berulang utuh, adalah kata yang bentuk dasar dan bentuk tambahannya sama persis. Kata ulang utuh misalnya lari-lari, makan-makan, siang-siang, dan sebagainya — pokoknya, berupa pengulangan kata dasar sehingga terdiri dari kata yang sama persis.

Kata berulang berubah bunyi adalah kata ulang yang bentuk tambahannya mirip dengan bentuk dasar kecuali satu atau beberapa perubahan bunyi. Misalnya, sayur-mayur, lauk-pauk, serta-merta, pontang-panting, dan sebagainya. Dalam sayur-mayur, bentuk tambahannya adalah sayur yang [s]-nya diubah menjadi [m].Dalam lauk-pauk, bentuk tambahannya adalah lauk yang [l]-nya diubah menjadi [p]. Dalam pontang-panting, yang terjadi adalah penggantian vokal [o] dan [a] dalam pontang menjadi [a] dan [i] dalam panting.

Kata berulang-suku kata awal adalah kata ulang yang tidak memiliki bentuk tambahan; terdiri dari satu kata yang berupa ubahan dari bentuk dasar. Kata ulang ini tidak memunculkan bentuk dasarnya tetapi menampilkan bentuk baru. Perubahan yang terjadi adalah penambahan suku kata baru sebelum suku kata pertama bentuk dasar. Suku kata pertama itu terdiri dari  pengulangan onset* pada suku kata pertama bentuk dasar — yang menjadi suku kata kedua dalam bentuk berulangnya — dan penambahan fon baru sebagai nukleusnya**. Contohnya adalah lelaki, sesama, pepatah, tetangga, rerumput(an), tetua, dan sebagainya. Untuk mempermudah penjelasan pengertian di atas, silakan lihat bagan di bawah ini.

Salah Kaprah Tentang Kata Ulang

… (dilanjutkan besok, he he he)

 

 

Catatan:

* Onset adalah konsonan yang mendahului sebuah nukleus dalam satu satuan suku kata. Misalnya, [k] adalah onset dari suku kata kar.

** Nukleus adalah inti suku kata, biasanya terdiri dari vokal. Misalnya, [a] adalah nukleus dari suku kata kar.





Apa Itu Kata Kerja Aus?

6 04 2010

Badudu (2001: 109) mengemukakan bahwa kata kerja aus adalah sebuah istilah yang dikemukakan St. Muh. Zain. Kata kerja aus adalah kata kerja taktransitif yang berbentuk kata dasar, yaitu kata kerja yang tak biasa memakai awalan me- atau ber- seperti mandi, duduk, pergi, pulang, dapat, lalu dan tidur.

Ciri kata kerja aus adalah:

  1. sifatnya intransitif, dan
  2. bila diberi awalan me(N)- atau be(R)-, akan ada dua kemungkinan; (a) kedengarannya janggal (karena tidak lazim), atau (b) artinya berubah.

Contoh kata kerja aus dalam kalimat adalah sebagai berikut.

(1)   Aku ingin pulang saja.

(2)   Wah, Koko sudah pergi, baru lima menit yang lalu.

(3)   Sana, mandi dulu!

(4)   Setiap sore, ia datang sendiri ke taman ini lalu duduk di bangku itu sambil membaca.

(5)   Sial, aku belum dapat satu pun.

(6)   Jangan ribut, nenek sedang tidur!

Coba amati dan resapi tiap kalimat tersebut baik-baik. Tidak ada yang terasa janggal bukan. Sekarang, coba amati dan resapi kalimat-kalimat berikut ini satu per satu.

(1a) Aku ingin memulang saja.*

(1b) Aku ingin berpulang saja.*

(2a) Wah, Koko sudah memergi, baru lima menit yang melalu.*

(2b) Wah, Koko sudah berpergi, baru lima menit yang berlalu.*

(3a) Sana, memandi dulu.*

(3b) Sana, bermandi dulu.*

(4a) Setiap sore, ia datang sendiri ke taman ini lalu menduduk di bangku itu sambil membaca.*

(4b) Setiap sore, ia datang sendiri ke taman ini lalu berduduk di bangku itu sambil membaca. *

(5a) Sial, aku belum mendapat satu pun.*

(5b) Sial, aku belum berdapat satu pun.*

(6a) Jangan ribut, nenek sedang menidur.*

(6b) Jangan ribut, nenek sedang bertidur.*

Kalimat (1a) sampai (6b) adalah hasil pengubahan kata kerja aus pada kalimat (1) sampai (6). Kalimat yang berkode (a) adalah kalimat yang kata kerja ausnya diuji dengan penambahan me(N)- sedangkan yang berkode (b) adalah yang kata kerja ausnya diuji dengan penambahan be(R-. Adakah perbedaan antara kalimat contoh dengan kalimat hasil pengujian?

Anda akan menemukan bahwa semua kalimat contoh (1) sampai (6) berterima secara struktur dan makna. Akan tetapi, kalimat hasil pengujian (1a) sampai (6b) akan didengar dan dimaknai janggal ketika dibaca atau diucapkan.

Kalimat (1) memiliki kata kerja pulang yang pada kalimat (1a) diubah menjadi memulang. Kamus bahasa Indonesia apapun yang Anda buka (kecuali kamus bahasa Indonesia yang ngawur) tidak akan Anda temukan entri memulang. Memulangi dan memulangkan memang ada. Akan tetapi, ingat kembali, “kata kerja aus adalah kata kerja yang tidak biasa memakai awalan me(N)- ….” bukan me(N)-i atau me(N)-kan (karena keduanya adalah konfiks, bukan prefiks seperti me(N)-)

Pada kalimat (1b), pulang diuji dengan afiks ber(R)- menjadi berpulang. Dalam kamus, berpulang memang terdaftar dan memiliki makna. Akan tetapi, apakah berpulang dengan pulang maknanya sama? Tidak. Dalam KBBI, pulang dimaknai pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke) sedangkan berpulang dimaknai meninggal dunia; tutup usia. Nah, apakah makna ‘meninggal dunia’ pada kalimat (1b) sama dengan makna ‘pergi ke rumah’ pada kalimat (1)?

Analisis yang serupa bisa Anda terapkan sendiri pada kalimat (2a) dan (2b) terhadap kalimat (2), (3a) dan (3b) untuk kalimat (3), dan seterusnya.

Referensi:

Badudu, J.S. 2001. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung: CV. Nawaputra





Apa itu Ekonomi Bahasa?

3 04 2010

Istilah ini disebutkan oleh Verhaar dalam Asas-Asas Linguistik Umum. Kurang lebih berikut kutipannya.

Dalam semua bahasa di dunia, penutur-penutur berusaha untuk ‘menghemat’ tenaga dalam pemakaian bahasa dan memperpendek tuturan-tuturannya, sejauh hal itu tidak menghambat komunikasi, dan tidak bertentangan dengan budaya tempat bahasa tersebut dipakai. Sifat ‘hemat’ itu dalam bahasa lazim disebut ‘ekonomi bahasa’ (Verhaar, 2006: 85).

Prinsip ekonomi bahasa menekankan bahwa setiap pengguna bahasa selalu berusaha menghemat tenaga dalam kegiatan berbahasa. Penghematan ini diaplikasikan melalui berbagai cara. Oleh karena bahasa itu ada yang berbentuk bahasa lisan dan tulisan, penghematan antara kedua bentuk tersebut serupa tapi tak sama.

Dalam bahasa lisan, bahasa berupa tuturan, berwujud bunyi, terdiri dari deretan fonem-fonem segmental dan suprasegmental. Contoh bentuk penghematan dalam bahasa lisan adalah penghilangan fonem. Penghilangan fonem bertujuan untuk mengirit jumlah fonem yang harus diucapkan tanpa mengubah makna yang dimaksud. Misalnya, kalimat berikut ini.

(1)   Hari ini giliran siapa yang piket sih?
Fonetis                        : [hari ini giliran siyapa yaŋ piket sih]
Jumlah fon      : 30
(2)   Hari ni giliran sapa yang piket si?
Fonetis                        : [hari ni giliran sapa yaŋ piket si]
Jumlah fon      : 28

Jelas dalam kalimat di atas jumlah fonem yang diucapkan dalam kalimat (2) lebih sedikit daripada kalimat (1). Pada kalimat (1) ada 30 fonem yang diucapkan dalam satu dereta kalimat sedangkan pada kalimat (2) ada 28 fonem. Berikut contoh lainnya.

(3)   Lagi ngapain? Sudah beres belum? Sebentar bukunya gue pinjem dulu ya!

Fonetis                        : [lagi ŋapayin##udah bзrзs bǝlum##sebǝntar bukuɲa gue piɲjǝm dulu ya##]

Jumlah fon      : 54

(4)   Gi apa? Dah beres blom? Tar bukunya gue pinjem dulu ya!

Fonetis                        : [gi a’pa##’dah bзrзs blöm##’tar bukuɲa gue piɲjǝm dulu ya##]

Jumlah fon      : 40

Penghilangan fonem di tuturan nomor (4) lebih ekstrem karena menghilangkan 14 fonem dari jumlah fonem tuturan aslinya, 54, menjadi 40 fonem.

Dalam bahasa lisan, bentuk ekonomi bahasa ini tampak pada bentuk-bentuk singkat atau abreviasi, seperti singkatan (baik gelar, nama lembaga, atau istilah), akronim , dan inisial. Penyingkatan-penyingkatan ini bertujuan menghemat tenaga ketika menulis karena bentuk singkat tentunya mengurangi jumlah huruf yang haurs dituliskan.

Apapun bentuknya, yang jelas, prinsip ekonomi bahasa berarti pengguna bahasa selalu berusaha semudah dan seminim mungkin menggunakan tenaga ketika berbahasa. Selain itu, perubahan-perubahan yang utamanya berupa penghilangan itu selalu bersifat tidak mengubah makna tuturan.

Hal lain yang patut dicatat adalah penghilangan-penghilangan fonem umumnya terjadi dan produktif pada ragam bahasa nonstandar atau nonformal sebab hanya pada ragam inilah bahasa dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan dan kehendak pengguna selama tidak berubah total dan menjadi suatu bahasa baru. Penghilangan fonem dalam tuturan ragam formal atau ragam baku tidak seproduktif ragam nonformal karena ragam ini bersifat kaku, tidak mudah berubah, dan tetap karena menjadi standar bahasa yang bersangkutan. Sepengamatan saya, penghilangan fonem dalam tuturan ragam formal sebatas terjadi pada abreviasi dan pembakuan kata yang mengalami gejala penambahan fonem seperti protesis, epentesis, atau paragog pada bentuk nonbakunya; misalnya, isteri dibakukan menjadi istri, silahkan dibakukan menjadi silakan, kampak dibakukan menjadi kapak, dan perduli dibakukan menjadi peduli.

Referensi

Badudu, J.S. 2001. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung: CV. Nawaputra

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum.

Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Verhaar, J.W.M. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.





Apa itu Konstituen?

2 04 2010

Apa itu Konstituen?

Konstituen adalah unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar; bagian dari suatu konstruksi (KL, 2001: 119).

Singkatnya, konstituen adalah satuan unsur yang lebih kecil yang jika disusun dapat membentuk satuan baru yang lebih besar. Misalnya, fonem-fonem yang disusun sedemikian rupa akan membentuk sebuah morfem. Morfem yang bertemu dengan morfem lain akan membentuk sebuah kata. Kata yang bertemu dengan kata lain akan membentuk frase atau kata majemuk. Pertemuan frase dengan frase akan membentuk satuan baru yang lebih tinggi yaitu klausa atau kalimat. Demikianlah seterusnya. Kalau urutannya dibalik, kalimat terdiri dari frasa-frasa yang terdiri dari kata-kata atau kata-kata majemuk yang terdiri dari morfem-morfem yang terdiri dari fonem-fonem.

Oleh karena tataran linguistik bersifat hierarkis (bersusun, bertingkat, ada yang lebih tinggi/besar dari yang lain), konstituen pun bersifat hierarkis. Ada konstituen paling kecil adalah fonem karena fonem tidak dapat dibagi lagi sedangkan konstituen paling besar adalah wacana karena memiliki susunan paling lengkap.

Dalam analisis konstituen dalam suatu konstruksi, ada dua konstituen yang sifatnya kontras, yaitu konstituen akhir dan konstituen langsung.

Lihat juga konstruksi.





Apa bedanya fonetik dan fonemik

2 04 2010

Ah, akhirnya saya bisa mengeposkan juga tulisan-tulisan rangkuman saya tentang istilah-istilah linguistik. Mulai saat ini, segala tulisan tentang linguistik akan saya kategorisasi dalam “Istilah Bahasa” dan saya tag dengan “linguistik”. Untuk saat ini saya poskan satu tulisan tentang perbedaan fonetik dan fonemik sebagai bagian dari fonologi. Saya mengeposkannya dalam rangka menjawab pertanyaan beberapa adek junior di jurusan yang kerap bertanya-tanya. Semoga tulisan ini dan tulisan-tulisan lainnya yang akan saya poskan nanti bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Salaaam ^_^!

FONETIK

Di bawah payung Fonologi, terdapat dua cabang ilmu yang masing-masingnya merupakan kajian berbeda. Yang satu bernama fonetik dan yang satu lagi bernama fonemik. Secara sekilas, istilah ini memang mirip sehingga sering dirancukan penggunaannya oleh orang awam tetapi bagi linguis, kedua ilmu ini adalah dua ilmu yang berbeda sehingga perlu dipahami betul-betul pengertian dan cakupannya agar tidak terjadi salah kaprah.

Fonetik adalah ilmu yang mempelajari produksi bunyi bahasa. Ilmu ini berangkat dari teori fisika dasar yang mendeskripsikan bahwa bunyi pada hakikatnya adalah gejala yang timbul akibat adanya benda yang bergetar dan menggetarkan udara di sekelilingnya. Oleh karena bunyi bahasa juga merupakan bunyi, bunyi bahasa tentunya diciptakan dari adanya getaran suatu benda yang menyebabkan udara ikut bergetar. Perbedaan antara bunyi bahasa dengan bunyi lainnya menurut fonetik adalah bunyi bahasa tercipta atas getaran alat-alat ucap manusia sedangkan bunyi biasa tercipta dari getaran benda-benda selain alat ucap manusia. Namun demikian, pada dasarnya deskripsi bunyi bahasa fonetik ini masih kurang lengkap sehingga akan dilengkapi oleh deskripsi bunyi bahasa menurut fonemik.

Dalam fonetik, bunyi bahasa dianggap setara dengan bunyi, yaitu sebuah gejala fisika yang dapat diamati proses produksinya. Fonetik memang berorientasi dalam deskripsi produksi bunyi bahasa serta cara-cara yang dapat mengubah bunyi bahasa itu dalam produksinya. Oleh karena itu, fonetik bertugas mendeskripsikan bunyi-bunyi bahasa yang terdapat di dalam suatu bahasa. Salah satu contoh konkretnya adalah identifikasi bunyi-bunyi kontoid dan vokoid dalam suatu bahasa.

FONEMIK

Fonemik sendiri adalah ilmu yang mempelajari fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda makna. Pada dasarnya, setiap kata atau kalimat yang diucapkan manusia itu berupa runtutan bunyi bahasa. Pengubahan suatu bunyi dalam deretan itu dapat mengakibatkan perubahan makna. Perubahan makna yang dimaksud bisa berganti makna atau kehilangan makna. Contoh:

b a b i ‘binatang berkaki empat’
p a p i sebutan lain untuk ayah

Pada contoh di atas, kata babi memiliki dua konsonan [b] yang menjadi awal suku kata pertama dan kedua sedangkan kata papi memiliki konsonan [p] sebagai awal suku kata pertama dan keduanya. Selain kedua bunyi itu, bunyi lainnya dan posisi/urutan bunyi lain itu sama. Perbedaan bunyi [b] dan [p] pada posisi/urutan yang sama dapat mengubah makna kata, inilah yang dikaji oleh fonemik.

Ada trik lain untuk mengenali suatu kajian merupakan fonetik atau fonemik, yaitu melalui istilah yang digunakan untuk menyebut bunyi bahasa. Fonetisi, para ahli fonetis, cenderung menggunakan istilah fon untuk satuan bunyi bahasa dan nama vokoid-kontoid-semivokoid untuk kategori fon. Untuk fonemik, para ahli menggunakan istilah fonem dan vokal-konsonan-semivokal.